Menurut Kang Yoto, sapaan Bupati Suyoto, kasus tersebut sebenarnya bukan kasus baru. Namun, kasus itu sering terjadi pada pengerjaan lapangan migas.

‘’Korbannya adalah masyarakat lokal,’’ ungkapnya dalam sosiaslisasi pengembangan proyek JTB di ruang Angling Dharmo kemarin.

Proyek JTB yang dioperatori oleh Pertamina EP Cepu membutuhkan banyak tenaga kerja. Jumlahnya mencapai belasan ribu orang.

Namun, perekrutan tenaga kerja tersebut akan dilaksanakan secara resmi. Artinya, tidak ada titip-titipan. 

Kang Yoto mencontohkan, sebelumnya pernah terjadi kasus penipuan dengan korban 20 orang.

Masing-masing orang korban tertipu dan kehilangan uang senilai Rp 25 juta. Penipuan tersebut dilakukan dengan sangat detail.

Pelakunya membuka lowongan. Para korban juga diwawancara dan setelah dinyatakan lulus diberikan seragam dan surat tugas.

Namun, surat tugas dan seragamnya palsu. ‘’Akhirnya mereka lapor polisi. Kasus seperti ini jangan sampai terulang,’’ ungkapnya.

Selain itu, ada juga oknum yang mengatasnamakan Pemkab dan Pertamina. Lalu mereka merasa kenal dengan petinggi Pertamina.

Lalu mencari korban dan mengaku bisa meloloskannya sebagai tenaga kerja migas. ‘’Kasus-kasus seperti itu harus menjadi pelajaran bagi kita,’’ jelasnya.

Proyek JTB saat ini sedang dalam proses pengembangan. Yaitu, pengerjaan fasilitas.

Pembangunan fasilitas produksi tersebut diperkirakan akan tuntas dalam 3,5 tahun.

Proyek tersebut diperkirakan akan melibatkan ribuan tenaga kerja lokal.

Tenaga kerja yang diharapkan adalah tenaga kerja lokal. Sedangkan tenaga kerja ahli bisa didatangkan dari profesional.

(bj/zim/nas/bet/JPR)

Source link