Ginanjar Elyas Saputra-Wartawan Radar Surabaya

Di Surabaya, di sepanjang Jalan Pahlawan, dan Jalan Bubutan jasa penukaran uang pecahan ini mudah dijumpai. Warga juga membuka lapak di jalan-jalan lain dekat dengan perkantoran Bank Indonesia.

Salah satu warga penyedia jasa penukaran uang pecahan, Ahmad Fauzi, mengatakan aktivitas ini dilakukan oleh dirinya setiap tahun menjelang Lebaran. Tahun lalu, ia melakukan hal serupa, dengan membuka jasanya mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.

Saat seminggu menjelang Lebaran saat ini, ia membuka lapak hingga petang, “Karena mendekati lebaran biasanya sampai malam di sini (tempat membuka jasanya, Red),” katanya, saat dijumpai di pinggir Jalan Pahlawan, Kamis (6/6).

Untuk penukaran uang ini, Ahmad mengambil untung sebagai imbalan jasa. Ahmadjuga menyediakan uang pecahan Rp 2 ribu, Rp 5 ribu, Rp 10 ribu, hingga Rp20 ribu. Konsumen memberikan uang lebih dari nilai uang yang ditukar. Biasanya penukaran bisa dilayani dengan nominal Rp 100 ribu atau lebih.

“Dalam setiap penukaran pecahan berapa pun, saya dapat untung Rp 10 ribu, jadi penukar harus membayar Rp 110 ribu,” jelasnya.

Kemudian untuk pecahan Rp 20 ribu, Ahmad menyatakan mengambil untung lebih tinggi yakni sekira Rp 15 ribu hingga Rp20 ribu. Alasannya untuk pecahan ribuan mahal karena jumlahnya lebih banyak. Sehingga, para penyedia jasa penukaran uang mematok Rp 120 ribu untuk setiap penukaran Rp 100 ribu pecahan uang Rp2 ribu.

Namun saat ini para jasa penukaran uang mengalami penurunan, tidak seperti tahun lalu warga ramai-ramai menukarkan uang pecahan, “Dulu, saya sehari bisa 5-10 penukar uang. Sekarang paling  ramai 5-6 orang per hari, mungkin bank sudah menyediakan jasa tukar uang jadi agak berkurang,” ujarnya.(*/no)

(sb/gin/jek/JPR)