Kepala Desa Andongsari, Prasisman menjelaskan, jembatan kayu yang didirikan oleh swadaya masyarakat pada tahun 70 tersebut, sebenarnya sudah direnovasi oleh pemerintah pada 2001 menjadi bangunan bersemen yang terlihat kukuh. “Dua tahun kemarin mulai retak. Tepat tiga hari menjelang puasa, bagian barat jembatan terputus,” tegasnya. 

Jembatan jati yang menjadi jalur alternatif Kecamatan Ambulu ini sebenarnya pernah mendapatkan anggaran Rp 250 juta pada 2017. Namun, sampai saat ini akses warga Andosari itu masih belum optimal, hingga mengancam keselamatan masyarakat yang melintasinya. “Dulu kami pernah ajukan, namun tersirat kabar bahwa dana itu ditarik kembali, tanpa mengerti alasan yang jelas,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Dia juga menegaskan, bila dalam waktu dekat masih belum ada tidak lanjut dari dinas terkait, warga akan perbaiki akses ini dengan swadaya. “Kami siapkan semen dua truk dan beberapa material lainnya yang akan dikerjakan dengan gotong royong,” jelasnya

Sekretaris Desa Andongsari Miskun menerangkan, rusaknya jembatan tersebut disebabkan tidak menyentuhnya fondasi dengan tanah sungai jati tersebut. Sehingga, jembatan tidak mampu menahan beban yang melewatinya. “Selain faktor kurang dalamnya fondasi jembatan,  maraknya pencarian pasir di Sungai Mayang membuat arus di sungai jati semakin deras, hal inilah yang menggerus fondasi,” katanya.

Rupmini, warga setempat yang sampai saat ini masih sering melintasi akses itu mengaku, kegiatan mengantar sayur di dusun sebelah menjadi momen yang menakutkan. Sebab, harus melewati jembatan dengan ujung terputus, ditambah lagi kedalaman sungai yang lumayan. “Mau bagaimana lagi, kalau saya putar arah, jaraknya bisa sampai tiga kali lipat” tambahnya.

Dia berharap agar pemerintah segera memperbaiki akses ini, Sebab, bukan hanya dia, namun masih banyak warga yang melintasinya meskipun dengan rasa khawatir. “Anak saya setiap sore juga lewat sana untuk mengaji,” tandasnya. 

(jr/jum/wah/das/JPR)

Source link