Keterbatasan fasilitas tak menghalangi kedua siswa ini meretas prestasi. Kedua anak petani ini mampu mendapatkan gelar dalam Lomba Kompetensi Siswa (LKS) bidang CNC Milling dan Turning tingkat Jatim.

Wajah kedua remaja itu semringah. Keduanya berbincang dengan asyik. Nimbrung di sebelahnya, M. Agus dan Imam Mahsun. Dua guru pembina. Juga ada sang pemilik ruangan, Kepala SMK Al Huda, M. Rahadian Fatawi.

Kedua remaja itu, Jibril dan Palvian Aziz, memang pantas berbahagia. Keduanya baru saja menjadi salah satu pemenang dalam ajang bergengsi, LKS Jatim. Bidang yang diikuti juga tergolong ‘kelas berat’. Jibril menjadi juara kedua bidang  CNC Milling. Sedangkan Aziz masuk tiga besar bidang CNC Turning.

Mesin milling dan turning memang ‘makanan’ sehari-hari siswa SMK jurusan mesin industri. Milling adalah mesin untuk membuat benda kerja berbentuk dasar balok. Sedangkan turning, orang biasa menyebut dengan mesin bubut. Karena untuk membuat benda kerja berbentuk dasar silinder.

Yang membuat beda, kerja mesin tak lagi manual. Tapi dikendalikan melalui computer numerical control (CNC). Itulah mengapa bidang lomba itu disebut CNC miling dan CNC turning. Menjadikan bidang ini sebagai bidang lomba yang tak murah. Harus ada laptop dan aplikasi mastercam-nya.

Padahal kedua remaja itu adalah berasal dari keluarga bersahaja. Aziz misalnya, agar bisa punya laptop harus ‘mecah celengan’ sang ibu. “Kemarin beli laptop pakai tabungan ibu,” ujar Aziz tersipu.

“Kalau saya laptopnya lungsuran dari kakak,” sambung Jibril.

Dengan laptop itu mereka berlatih setiap hari. Tak hanya di sekolah. Keduanya juga harus berlatih menggambar di rumah. Selama satu hingga dua jam. Selang waktu itu bisa mereka gunakan untuk membuat satu hingga tiga gambar.

Agus, sang guru pembina, menceritakan perjuangan berat anak didiknya dalam lomba LKS Jatim yang berlangsung di Banyuwangi dan Surabaya itu. Selain membutuhkan biaya yang tak murah, siswa peserta harus terampil dan paham mengoperasikan mesin dengan CNC itu.

Mengawalinya dengan menggambar di Mastercam kemudian dimasukkan di NC program (program di mesin CNC). Hal itu membuat kedua siswa membutuhkan persiapan yang tak sebentar. Selain bakat, persiapan bisa menjadi penentu keberhasilan mereka menjadi juara. Karena itu pihak sekolah juga mempersiapkan sejak dini.

“Sejak awal kelas dua sudah kami siapkan,” ungkap Kepala Program permesinan yang juga pembina Bidang CNC, Imam Mahsun.

Pertama, mereka menyeleksi siswa. Hingga mengerucut menjadi enam siswa. Keenamnya itu harus menjalani pelatihan selama satu tahun lebih! Baru kemudian diperoleh dua orang yang terbaik. Yang mampu mencetak paling banyak benda dari mesin CNC.

“Yang juara 1 ditunjuk menjadi peserta bidang milling. Sedangkan yang juara kedua di bidang turning,” terang Imam.

Selain itu, siswa juga ditempatkan di perusahan yang berhubungan dengan bidang CNC saat pendidikan sistem ganda (PSG). Mereka menjalani program itu selama tiga bulan. Di perusahaan yang ada di Surabaya.

Kedua siswa itu juga mendapat didikan khusus dari tim bidang CNC SMK Al Huda. Secara bergantian guru-guru permesinan mengajari Jibril dan Aziz selama tiga bulan. Biasanya setelah pulang sekolah. Mulai pukul 13.00 hingga 17.00. “Terkadang juga sampai maghrib,” tambah Agus.

Ia juga menambahkan kesuksesan di LKS Provinsi bidang CNC ini juga berkat tim permesinan. Khususnya bidang CNC Milling, selama tiga tahun SMK Al Huda mendapatkan juara.  Pada 2015 mereka menyabet juara 2. Setahun kemudian mendapatkan juara 1. Dan kali ini juara 2. “Ini yang membedakan dengan sekolah lain, kami bekerja sebagai Tim,” tegasnya.

Sedangkan untuk bidang CNC Turning baru digelar dua tahun terakhir. Tahun lalu SMK Al Huda belum mendapatkan juara. Dan baru tahun kedua mendapatkan juara 3. Untuk masing-masing bidang ada 20 peserta yang berjuang meraih prestasi terbaik. Dalam LKS kali ini tuan rumah sebenarnya adalah Kabupaten Banyuwangi. Berlangsung 23 – 27 Oktober 2017. Tapi untuk bidang CNC Milling dan Turning diadakan di Surabaya, 19-21 Oktober 2017. Pasalnya bidang CNC Milling dan Turning membutuhkan mesin yang besar. Sehingga membutuhkan banyak tenaga dan biaya yang besar untuk mengangkutnya.

Kepala SMK Al Huda Rahadian Fatawi punya keinginan khusus dengan keberhasilan siswanya itu. Dia mengatakan jika bidang CNC selalu stabil menjuarai berbagai lomba. “Kami ingin SMK Al Huda menjadi pusat studi bidang CNC,” harapnya.

Itu terbukti dalam waktu dekat ini akan ada beberapa sekolah yang ingin lebih mengerti Mesin CNC. Selain itu kasek berpretasi 2016 ini juga apresiasi kinerja tim bidang CNC. (fud)

Judul Sambungan\Kasek Ingin Al Huda Jadi Pusat Studi CNC

Caption//Membanggakan : Palvian Aziz (kanan) dan M. Jibril (kiri) berfoto bersama di depan mesin CNC di laboratorium permesinan SMK Al Huda. (foto: Bagus Romadhon)

(rk/die/die/JPR)

Source link