SINGARAJA – Komang Suriyani, 35, orang tua dari korban Luh Devi Cahyani tiba di ruang jenazah RSUD Buleleng, dengan wajah sembab kemarin.

Air mata pun tak bisa dibendung saat disinggung mengenai putrinya tersebut. “Awalnya saya sedang potong rumput, kemudian suami (Kadek Suarsana)

saya menelpon suruh ke sekolah, namun nggak tahu dengan alasan apa. Saya langsung ke sekolahnya,” tutur Suriyadi.

Sampai di sekolah, iIbu tiga orang anak ini tidak mendapatkan informasi apapun. Kemudian ia pergi ke Polsek Sukasada.

Sampai disana, ia pun terkejut karena anaknya dikatakan sudah meninggal dunia dan berada di kamar jenazah RSU Singaraja.

Disinggung soal acara, Suriyani pun mengaku tak tau apa-apa. Sebab, anaknya tersebut tidak bilang bahwa ada acara trekking.

“Anak saya kan tinggal di asrama yayasan Widharba. Jadi tidak boleh bawa HP. Pulangnya juga jarang. Paling dua bulan sekali.

Kemarin sempat ngabari kalau tanggal 21 Desember ini dia mau pulang, mau merayakan ulang tahunnya,” ungkapnya.

Ada firasat buruk? “Ada. Minggu lalu saya sempat bermimpi aneh.  Dalam mimpi itu, saya sembahyang di sebuah Pura Dalem,” jawabnya.

Ia juga kesal terhadap sekolah karena tak mengabari dengan jelas kronologi kejadiannya. “Saya akan bahas dengan keluarga dulu. Suami saya masih di Jawa. Apakah nanti akan nuntut pihak sekolah atau tidak,” tuturnya.

Orang tua dari korban Kadek Dwi Asmarani, Gede Ada, mengaku terkejut dengan kejadian tersebut. Secara tegas, pihaknya akan menuntut sekolah.

“Anehnya, saya tahu kabar anak saya tenggelam itu dari Kepala Dusun. Saya ditelepon pak kadus. Pihak sekolah juga tak memberikan penjelasan apapun kepada saya.

Anak saya tidak bisa berenang. Saya akan tuntut nanti karena tak ada pertanggungjawaban dan telah lalai,” pungkasnya.

(rb/ara/mus/mus/JPR)

Source link