Jumat malam (9/2), langit di Pulau Garam terlihat kelabu. Seorang tokoh panutan yang memiliki dedikasi tinggi terhadap dunia pendidikan berpulang. Dialah Kutwa Fath, mantan Ketua Dewan Pendidikan Pamekasan yang kerap dijuluki guru sejuta umat.

Julukan itu sangat layak disematkan kepada tokoh yang lahir di Dusun Radang Kokkowan, Desa Gulukmanjung, Kecamatan Bluto, Sumenep itu. Sebab, hamper seluruh hidupnya dimanfaatkan untuk mengajar. Baik sejak menjadi guru tingkat sekolah dasar (SD) hingga mengajar di sejumlah perguruan tinggi.

Muhammad Zubaidi (kiri), putra sulung almarhum Kutwa Fath ketika ditemui di Desa Gulukmanjung, Kecamatan Bluto, Sumenep, Kamis (15/2).
(IMAM S. ARIZAL/Radar Madura/JawaPos.com)

Muhammad Zubaidi, putra sulung almarhum, bercerita tentang kehidupan Kutwa Fath. Menurut dia, almarhum pernah mengajar di sejumlah perguruan di tiga kabupaten. Mulai dari STKIP PGRI Sampang, STKIP PGRI Sumenep, dan STAIN Pamekasan.

Selain itu, almarhum yang lahir pada 17 Juli 1939 itu juga mengajar di Instika Guluk-Guluk Sumenep, Unira Pamekasan, STAI Miftahul Ulum Panyepen, STAI Al-Khairat, IDIASumenep, STITA Sumenep, serta sejumlah kampus lainnya.

”Beliau mengajar metodologi penelitian, statistik, dan evaluasi pendidikan,” kata Muhammad Zubaidi kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) di musala almarhum di Desa Gulukmanjung, Kecamatan Bluto, Sumenep, Kamis (15/2).

Dosen Universitas Negeri Gorontalo itu juga menceritakan riwayat pendidikan sang ayah. Kutwa menempuh pendidikan di sekolah rakyat (SR) di Kapedi, Bluto, Sumenep, pada 1954. Kemudian, melanjutkan ke sekolah guru B (SGB) Sumenep pada 1958 dan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Pamekasan 1968.

”Beliau kemudian melanjutkan ke IAIN Sunan Ampel Cabang Pamekasan (kini STAIN Pamekasan, Red) dan meraih gelar sarjana muda (BA) pada 1973,” tambahnya.

Setelah lulus IAIN, pada 1979 melanjutkan studi ke IKIP Malang (kini UM Malang). Sedangkan jenjang strata dua ditempuh di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). ”Beliau meraih gelar magister pada 2003,” tegasnya.

Banyak kisah inspiratif yang bisa dipetik dari perjalanan hidup Kutwa. Putra KH Fathollah dan Nyai Ruhani ini merupakan sosok sederhana. Meski seabrek karya telah dilahirkan hingga menjadi pimpinan perguruan tinggi, Kutwa tetap tampil apa adanya. Bahkan, hingga akhir hayatnya dia tidak memiliki mobil.

”Saya pernah menawari untuk membelikan mobil, tapi beliau tidak berkenan,” ucap Zubaidi.

Hingga usia senja, Kutwa mengajar di Pamekasan dan Sumenep. Saat mengajar dia tidak mau dijemput atau diantar pakai mobil kampus. Sehari-hari dia lebih memilih naik ojek dan angkutan umum.

Pagi-pagi sekitar pukul 07.00, biasanya sudah naik ojek dari rumah menuju jalan raya, kemudian naik bus. Jika mengajar di Sumenep biasanya turun di terminal. Kemudian, dia naik ojek.

Jika mengajar di Pamekasan turun di pertigaan Tambung, Kecamatan Pademawu. Lagi-lagi dia juga tetap menggunakan jasa ojek. ”Sampai menjelang ajal, beliau masih aktif mengajar di lima kampus yang ada di Sumenep dan Pamekasan,” jelas Zubaidi.

”Kadang beliau baru nyampe di rumah pukul 23.00. Tapi keesokan harinya pukul 07.00 sudah berangkat lagi,” tambahnya.

Ada pesan yang melekat di hati putra-putrinya. Kutwa mengajarkan mengamalkan ilmu yang telah diperoleh dengan ikhlas. Anak-anaknya juga dilarang terlalu mengejar kepentingan materi. ”Saya diwanti-wanti oleh bapak, tidak boleh membikinkan skripsi, tesis atau disertasi orang lain meskipun dibayar mahal. Beliau juga berpesan agar tidak melakukan plagiarisme,” tuturnya.

Kisah lain dituturkan Moh. Syuhud, adik bungsu almarhum Kutwa. Pada suatu ketika Kutwa diminta untuk maju sebagai calon kepala daerah di Pamekasan. Tetapi, Kutwa secara tegas langsung menolak. ”Jangan saya, yang lain saja. Kalau saya jadi bupati, saya tidak bisa ngajar lagi,” tutur Syuhud.

Kesederhanaan Kutwa sudah masyhur di kalangan masyarakat Madura. Ketua Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Madura (Pakem Maddu) Pamekasan ini dijuluki sebagai Oemar Bakri dari Madura. Hal itu sebagai penghargaan atas keikhlasan Ketua Yayasan Pakem Maddu Pamekasan ini dalam mengabdi di dunia pendidikan.

”Dhabuna KH Idris Jauhari, ta’ nemmu dosen e Madura se padha ban Pa’ Kutwa (kata KH Idris Jauhari, tidak menemukan dosen di Madura yang sama dengan Pak Kutwa),” papar Syuhud mengenang sanjungan Kiai Idris atas kakak kandungnya tersebut.

Kutwa Fath telah berpulang ke haribaan Sang Pencipta. Namun kenangan dan karyanya tetap dikenang generasi penerus. Kutwa juga menjadi ketua tim penulisan buku Tapak Tilas Penelusuran Sejarah dan Hari Jadi Pamekasan. Buku yang ditulis A. Sulaiman Sadik itu akan diterbitkan pada tahun ini oleh Bina Pustaka Jaya Pamekasan.

(mr/mam/luq/bas/JPR)