Hal itu mengakibatkan seringnya terjadi kapal kandas. Pasalnya, tidak adanya rambu navigasi yang mengatur lalu lintas kapal.

Menyadari pentingnya rambu navigasi, Kementerian Perhubungan sedang membuat rambu navigasi di Pantai Sanur untuk melayani penyeberangan ke Nusa Penida dan Lembongan. 

Kepala Syahbandar Wilayah Kerja Sanur Warsita mengatakan, pemasangan rambu navigasi ini bertujuan memberikan tanda agar kapal yang melintas di kawasan ini perlu berhati-hati sehingga tidak lagi kandas.

Rambu lalu lintas angkutan laut yang saat ini dipasang nantinya memiliki dua lampu yakni berwarna hijau dan merah. 

Dijelaskan fungsi dari rambu ini berfungsi memberikan tanda kondisi perairan yang boleh dilintasi maupun tidak boleh dilalui boat.

Untuk memberikan keselamatan, kapal nanti akan melintas di tengah-tengah kedua rambu tersebut.

“Jadi nanti ada dua lampu lalu lintas laut yang memberi tanda. Di sebelah kiri lampu hijau dan sebelah kanan lampu merah itu dangkal,” ujarnya.

Nah, lampu itu akan menyala saat gelap saja atau dalam cuaca buruk. Bila kondisi cuaca laut buruk dan gelap pada malam hari, lampu navigasi ini yang akan memberikan tanda.

“Nanti malam itu lampu akan hidup, bila kapal mau masuk itu sudah ada tanda biar kapal tidak sampai kandas. Jadi ini kan ada dua lampu merah sama hijau,

di kiri lampu hijau dan kanan lampu merah itu dangkal. Jadi, lalu lintasnya diambil di tengah-tengahnya (antar lampu merah dan lampu hijau-red),” bebernya.

Lampu navigasi ini, kata dia, berfungsi secara otomatis. Sehingga bisa mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

“Jadi, kalau kondisi gelap itu langsung otomatis hidup. Kalau kondisi cuaca terang, lampu langsung mati. Jadi kalau matahari terbenam atau kondisi cuaca mendung gelap itu lampu langsung hidup,” katanya.

 Dia mengatakan, proyek pemasangan rambu navigasi ini sudah dikerjakan sekitar dua bulan sejak bulan Mei 2018 lalu.

Target akan selesai pada akhir tahun 2018 ini. Anggarannya dari Kementerian Perhubungan.”Proyek ini memang dari KSOP pusat. Kami usulkan sudah sejak tahun 2017 untuk tahun anggaran 2018.

Soal berapa biaya saya tidak tahu, kami cuma mengusulkan saja, yang realisasikan dari pusat. Lumayan banyak karena ada biaya perawatan alat dan lainnya,” kata Warsita

Selain itu, terkait pelabuhan atau pun dermaga di Pantai Sanur. Warsita mengaku sudah mengusulkan, karena menurutnya demi keselamatan penumpang dan Pantai Sanur saat ini sudah menjadi pelabuhan rakyat. 

Apalagi penyeberangan setiap hari. Penumpang yang diangkat pun banyak mencapai seribu lebih.

Sayangnya,  Warsita mengaku belum tahu respons dari pusat. Hanya saja, Dirjen Perhubungan Laut sudah meninjau ke lokasi, tapi belum ada tanda-tanda akan terealisasi. 

“Sebenarnya dulu sudah diusulkan pelabuhan di pantai Matahari Terbit, Sanur. Tapi masalahnya pembebasan lahan yang masih belum. Istilahnya masih ada pro dan kontra.

Tapi nggak tahu perkembangannya nanti. Yang terpenting kalau dari kita untuk kepentingan keselamatan pelayaran, kita mengajukan. Terkait realisasinya bagaimana itu kita usulkan dulu,” pungkasnya.

(rb/feb/mus/mus/JPR)

Source link