RADARSEMARANG.ID–Vonis majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Semarang terhadap lima terdakwa taruna tingkat III Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang dinilai terlalu ringan. Karena itu, tim jaksa gabungan dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jateng dan Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Semarang mengajukan upaya banding.

Adapun kelima terdakwa tersebut adalah Rinox Lewi Wattimena, Christian Atmadibrata Sermumes, Gibrail Charthens Manorek, Martinus Bentanone dan Gilbert Jordi Nahumury Al Jordi. Mereka melakukan pengeroyokan hingga menewaskan Brigadir Taruna Dua Muhammad Adam.

Dengan demikian, total ada 14 terdakwa taruna Akpol yang perkaranya diajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Jateng. Sebelumnya, jaksa juga mengajukan banding atas perkara yang menjerat sembilan taruna Akpol tingkat III dalam kasus yang sama. Mereka adalah terdakwa Joshua Evan Dwitya Pabisa, Reza Ananta Pribadi, Indra Zulkifli Pratama Ruray, Praja Dwi Sutrisno, Aditia Khaimara Urfan, Chikitha Alviano Eka Wardoyo, Rion Kurnianto, Erik Aprilyanto, dan Hery Avianto.

Kasi Penerangan hukum Kejati Jateng, Sugeng Riyadi, menjelaskan, mayoritas terdakwa sebelumnya langsung menerima vonis majelis hakim, dan bebas dari tahanan Mapolda Jateng. Sebab, vonis majelis hakim kebanyakan sama dengan masa tahanan. Yang berbeda hanya terdakwa Rinox dan Christian, karena dipastikan tetap menjalani tahanan, meski tidak lama lagi juga bebas.

“Untuk 5 terdakwa kita banding ke PT Jateng, sama dengan 9 terdakwa lainnya juga mengajukan banding. Alasan hukumnya sesuai dengan pasal 240 KUHAP (Kitab Undang – Undang Hukum Acara Pidana),” jelas Sugeng Riyadi kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (20/12/2017).

Penelusuran koran ini, pasal 240 ayat 1 disebutkan, jika Pengadilan Tinggi berpendapat bahwa dalam pemeriksaan tingkat pertama ternyata ada kelalaian dalam penerapan hukum acara atau kekeliruan atau ada yang kurang lengkap, maka Pengadilan Tinggi dengan suatu keputusan dapat memerintahkan Pengadilan Negeri untuk memperbaiki hal itu atau Pengadilan Tinggi melakukannya sendiri.”

Sedangkan pasal 240 ayat 2 disebutkan, Jika perlu Pengadilan Tinggi dengan keputusan dapat membatalkan penetapan dan Pengadilan Negeri sebelum putusan Pengadilan Tinggi dijatuhkan. Sesuai pasal tersebut, penjelasannya adalah bahwa perbaikan pemeriksaan dalam hal ada kelalaian dalam penerapan hukum acara, harus dilakukan sendiri oleh Pengadilan Negeri yang bersangkutan.

Kuasa hukum Christian Atmadibrata Sermumes, Aris Bongga Salu, mengaku sudah mengetahui kalau jaksa melakukan upaya banding. Ia menilai, jaksa banding karena putusan majelis hakim tidak sampai 2/3 dari tuntutan jaksa. Namun demikian, menurutnya, semua itu kewenangan jaksa. Sehingga pihaknya akan mengajukan memori banding berupa kontra memori.

Ia mengaku pada awalnya kliennya sudah menyatakan pikir-pikir, namun setelah koordinasi dengan keluarga langsung menerima. “Memang awalnya tidak menerima, karena dalam dakwaan dan tuntutan dengan terdakwa lain sama, tapi klien kami divonis paling tinggi. Kemudian setelah dipertimbangkan keluarga, klien kami menerima putusan tersebut,”kata Aris kepada koran ini.

Aris mengaku, atas putusan majelis hakim yang dipimpin Antonius Widijantono itu, dirinya sempat memendam kekecewaan. Karena kliennya dikecualikan sendiri putusannya. Hanya saja, sebagai penasehat hukum, pihaknya tidak bisa menilai apakah cuma kliennya sendiri yang dikorbankan atau dikambinghitamkan atas pertimbangan majelis hakim dalam kasus tersebut.

“Yang bikin kecewa pengajuan berkas peradilan, karena itu tadi dakwaan dan tuntutan ke terdakwa sama (4 terdakwa, Red), termasuk jeratan pasal dan kesaksian di pengadilan sama. Tapi, anehnya putusan hakim ke klien kami beda sendiri,”keluhnya.

Seperti diberitakan Jawa Pos Radar Semarang sebelumnya, majelis hakim PN Semarang yang dipimpin Casmaya didampingi dua hakim anggota, yakni Edy Suwanto dan Suparno, manjatuhkan pidana penjara enam bulan penjara kepada 9 terdakwa. Sedangkan satu terdakwa Rinox, oleh majelis hakim yang dipimpin Abdul Halim Amran didampingi dua hakim anggota, yakni Manungku Prasetyo dan Pudji Widodo mengganjar hukuman 7 bulan penjara.

Berbeda dengan terdakwa Christian yang divonis pidana selama 1 tahun. Sedangkan hukuman yang lebih rendah dijatuhkan kepada tiga terdakwa lainnya, yang divonis pidana 6 bulan 20 hari. Keempatnya divonis majelis hakim yang dipimpin Antonius Widijantono.

(sm/jks/ton/JPR)