Keduanya selalu tampil sebagai pengingat pertama agar Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni dan Wabup Soedjarno untuk tetap mengedepankan pelayanan kepada masyarakat.

Sebagai istri bupati, Sri Wahyuni otomatis berstatus ketua tim penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Ponorogo. Namun, dia juga sengaja ambil peran mengawal kepemimpinan suami agar tetap istiqamah berada di jalur yang benar.

Ibu tiga anak itu tentu saja berharap Ipong, suaminya, senantiasa dikaruniai kesehatan dan kekuatan. ‘’Tugas yang diemban ke depan bukan semakin ringan. Kalau ada tekanan dari luar, kami hadapi bersama-sama,’’ kata Sri Wahyuni.

Semangat kebersamaan menjadi kunci utama Ipong Muchlissoni dan Sri Wahyuni. Sebab, keburukan dan kebaikan sang suami berdampak langsung pada itu. 

Begitu pula sebaliknya. Sebagai istri orang nomor satu di Ponorogo, Sri Wahyuni semaksimal mungkin menjaga kewibawaan suami. 

‘’Sebagai seorang istri tentu harus memberi semangat agar persoalan yang dihadapi suami bisa cepat selesai,’’ ungkap perempuan asli Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan ini.

Jika kesehatan dan imannya selalu terjaga, Sri Wahyuni percaya semua tugas dijalankan bupati dapat dijalankan dengan maksimal. Selain itu, hasilnya memuaskan publik. 

Selama dua tahun mendampingi suaminya bertugas, Sri Wahyuni menilai Ponorogo sudah menjelma sebagai daerah yang sangat dinamis sepadan dengan problematikannya. 

Ketika seorang istri bupati tidak memahami tugas yang dijalankan suami, maka tentu sulit untuk memimpin Ponorogo. 

‘’Makanya saya mendorong semua perempuan turut serta di dalam pembangunan Ponorogo yang tercinta ini,’’ ujar perempuan 40 tahun itu.

(mn/her/sib/JPR)