Masing-masing Gede Ngurah Astika alias Sandi alias Gede Alit, Dewa Made Budianta, Dewa Made Sudiana, dan Putu Very Permadi.

Meski telah mengamankan empat orang pelaku, pihak keluarga mempertanyakan posisi oknum perempuan yang sempat datang ke rumah korban bersama seorang laki-laki.

“Waktu datang ke rumah untuk negosiasi harga ada perempuan bersama seorang laki-laki. Bila si perempuan adalah istri pelaku utama

atau otak pembunuhan (Gede Ngurah Astika red) seharusnya dia (perempuan red) tahu,” ucap salah seorang keluarga almarhum Aipda (Purn) Suanda.

Menurutnya, mereka datang ke Jalan Dharmasaba No. 9 X, Banjar Dharmasaba, Desa Dharmasaba, Kecamatan Abiansemal, Badung antara pukul 10.30-11.00 sebelum akhirnya korban pergi.

“Antara pukul 10.30 sampai 11.00. Sebelum kakak berangkat jam 11.30 pamit dari rumah,” tandas adik kandung korban, Wayan Sudana Bima.

Keduanya disebut mengendarai sepeda motor jenis Vario. Keduanya kompak memakai masker, baik laki-laki maupun perempuan.

“Pastinya mereka ke rumah (Banjar Dharmasaba, Red). Tapi, sampai di depan saja. Di mobil (Honda Jazz DK 1985 CN di parkir di pinggir jalan red). Tidak masuk ke rumah,” ucap keluarga korban.

Pihak keluarga menilai mustahil oknum perempuan tersebut tidak tahu-menahu tentang peristiwa pembunuhan yang dialami korban.

Pasalnya si perempuan mengenal pasti wajah korban. Terkait sosok perempuan dimaksud, lewat penelusuran koran ini diketahui ada saksi yang melihat seorang perempuan masuk ke rumah kontrakan tersebut.

“Perempuan dibonceng sama laki-laki masuk ke rumah kontrakan (TKP red). Tanggal 15 Desember 2017,” ucap sumber. 

(rb/ken/mus/mus/JPR)

Source link