Pantauan kemarin menunjukkan, rangkaian deklarasi paket Kertha-Maha dimeriahkan dengan sederet pementasan. Pada deklarasi kemarin beberapa penglingsir Puri Ubud dan Peliatan juga tampak hadir bersama para pimpinan dan pentolan lima partai pengusung. Mereka seperti Tjokorda Gede Putra Sukawati (Cok Putra), dan Tjokorda Gde Raka Sukawati (Cok De), kakak dan adik Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati alias Cok Ace yang notabene calon Wakil Gubernur Bali yang berpaket dengan I Wayan Koster (KBS-Ace) dari PDIP. Tidak itu saja, Tjokorda Gde Putra Nindia, penglingsir Puri Peliatan juga turut hadir, bersama para tokoh Puri Ubud lainnya. Tidak itu saja, duet CGT yakni Tjokorda Ngurah Suyadnya (Cok Wah) dan Ida Bagus Gaga Adi Saputra (Gus Gaga) yang diawal sempat meramaikan bursa paket Pilbup Gianyar juga turut hadir dan duduk bersebelahan. Sementara itu, dari kalangan partai politik, tampak hadir anggota DPR RI asal Partai Golkar Gede Sumarjaya Linggih, bersama simpatisan, relawan, serta pendukung paket Kertha-Maha.

Ketua DPD II Golkar Gianyar I Made Dauh Wijana mewakili lima parpol pengusung dalam orasinya menyebutkan, seperti arti dari nama paket Kertha-Maha, maka sebuah cita-cita untuk menciptakan karya besar akan segera terwujud. Seperti katanya, paket ini lahir dari sebuah sesuatu yang tidak direncanakan. Karena dirinya tahu betul, pada awalnya Cok Ibah beberapa kali sempat mengutarakan ketidakinginannya maju sebagai calon bupati. “Sebab Cok Ibah awalnya tak punya ambisi untuk maju. Jadi ini kehendak alam, dan tidak terduga,” ucapnya.

“Bahkan saya katakan, paket Kertha-Maha ini juga dilahirkan oleh paket yang lebih awal menggema yakni CGT (Cok Wah-Gus Gaga). Sekarang (keduanya) hadir disini dan akan tetap mengawal CGT Reborn,” ucapnya yang langsung diamini duet Cok Wah-Gus Gaga dengan berdiri dari kursinya, serta menyapa massa yang hadir.

Dikatakan Dauh Wijana, bahwa paket ini lahir dari proses yang panjang, yakni atas kehendak aspirasi rakyat, bukan karena ambisi. Itulah yang dia tegaskan membuat paket Kertha-Maha sangat pas memimpin Gianyar. “Perlu diketahui, paket ini didukung lima kekuatan partai politik (Partai Golkar, Demokrat, Gerindra, PKPI dan Nasdem) yang kalau diibaratkan seperti Panca Pandawa. Karena itu, kami yakin mampu memenangkan Pilkada Gianyar pada Juni mendatang, seperti kemenangan Panca Pandawa saat Perang Bharatayuda,” paparnya.

“Oleh karena itu, jika di sebelah kemarin begitu wah. Kami tak merespons. Karena kami yakin yang hadir sekarang, ada tokoh. Karena jika tokoh-tokoh ini bekerja efektif, akan melampaui yang dilakukan tetangga kita. Untuk itu saya mohon, selesai acara jangan tidur nyeyak. Tapi bekerja bahu-membahu. Dan kami lima parpol akan siap mendukung penuh,” pungkasnya yang diiringi pekik kemenangan.

Sementara itu, dalam orasi perdananya saat deklarasi. Cok Ibah dengan gayanya yang khas memang tidak banyak menyerang rivalnya. Politisi Golkar yang kini duduk di DPRD Bali ini memilih mengajak pendukungnya untuk sopan dan santun. Karena Pilkada bukan untuk menciptakan perbedaan. Bahkan dia pun “meminjam” nasehat Presiden Joko Widodo, bahwa perhelatan pesta demokrasi bukan untuk memecah belah persahabatan, memecah belah antar golongan, atau pun bangsa. Tapi politik adalah sebuah strategi dalam mempersatukan perbedaan dalam membangun Gianyar Bangkit.

“Spirit itulah yang kami perjuangkan. Itulah yang sama-sama harus diperjuangkan. Sebab perbedaan bukan sebuah permusuhan,” ucapnya.

Dia juga menegaskan, bahwa seorang pemimpin layaknya seperti seorang tukang kebun. Artinya bila sebuah taman ditata dengan baik, maka bisa dinikmati dengan baik oleh semua masyarakat. “Tapi kita juga harus berani mencabut, memotong, dan memangkas yang akan merugikan kita (Gianyar). Harus berani bertindak untuk memberikan kemakmuran bagi masyarakat Gianyar. Untuk itu, sudahkan kita siap,” tanyanya kepada para pendukungnya, yang langsung dijawab serentak massa yang hadir kemarin.

Dalam kesempatan kemarin, Cok Ibah mengatakan, dengan deklarasi kemarin, dia mengibaratkan telah dilakukan upacara nanceb karya. Untuk itu, dia menggerakkan para pendukungnya untuk terus berjuang sampai pada pemilihan mendatang, tapi tetap mengingatkan akan perlunya sebuah perjuangan yang sopan sesuai budaya Bali. “Sehingga yang terbaik diberikan Ida Sang Hyang Widhi Wasa ke depan. Jadi KGB harus terus solid dan berjuang, bersama dengan semeton yang diluar partai, relawan dan lainnya. Berjuang dengan etika dan keramahtamahan,” terangnya.

“Karena ini adalah sudah kehendak awal. Saya akan berjuang maksimal. Tanggung jawab saya tidak hanya sampai deklarasi, tapi sampai menjadi bupati. Tapi ini tak hanya kami berdua, tapi semua yang ada disini. Jadi mari berjuang bersama,” pungkasnya. 

(bx/wid/ima/yes/JPR)

Source link