SITUBONDO –  Didampingi Advokasi Cagar Budaya se Tapal Kuda, Balai Pelestrasian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur tinjau kerusakan situs Melek, jumat kemarin (26/01). Langkah tersebut diambil setelah banyaknya laporan yang diterima. Turut hadir dalam peninjauan itu berbagai LSM dan pegiat sejarah setapal kuda.

“Selain BPCB, juga banyak aktifis LSM Cagar Budaya dari berbagai daerah se Tapal Kuda yang hadir. Diantaranya adalah LSM Sapta Prabu dari kabupaten Jember, Dang Acarya dari Lumajang, dan banyak yang lain,” ungkap Irwan, tuan Rumah sekaligus pegiat sejarah LSM Wirabumi.

Zainol Ahmad, Aktifis LSM Batara Sapta Prabu, Jember menyampaikan, pihaknya datang ke Situbondo dalam rangka untuk mendukung terhadap perlindungan cagar budaya. Menurutnya, pengrusakan terhadap benda cagar budaya harus segera dihentikan.
“Disini banyak ditemukan banyak sekali benda-benda cagar budaya yang terancam mengalami kerusakan. Seperti ditemukannya struktur batu-bata kuno dan benda-benda artefak dari batuan andesit. Meskipun benda itu baru ditemukan, tapi kalau ada pengrusakan tetap saja harus diselamatkan. Yang bisa kita lakukan untuk penyelamatan kawasan ini ialah dengan memperkuat Perda. Tentunya adalah perda cagar Budaya kabupaten Situbondo. Inilah yang pertamakali akan kita lakukan,” jelasnya.

Mengenai masalah hukum, Zainol mengaku mempunyai LSM Cagar Budaya setapal kuda sudah memiliki lembaga advokasi yang dipandang mampu untuk membantu mengawal masalah kerusakan itu. “Kalau masalah hukum, adalah bagian dari lembaga kami Dang Acarya yang akan melihat dari aspek atau sisi hukum. Untuk itu kami berharap kerusakan ini cukup sampai disini saja. Dan selanjutnya harus diproteksi oleh Perda dan dibentuk tim ahli cagar budaya,” tuturnya.

Kepada koran ini, Zainol juga menyampaikan hasil analisisnya terhadap temuan cagar budaya yang ada di Dukuh Melek itu. Menurutnya temuan-temuan yang ada di lokasi terkait dengan masa Klasik Majapahit. “Temuan struktur batu bata kuno di tempat ini diperkirakan terkait masa klasik Majapahit dalam naskah negera Kertagama tahun 1359. Yakni mengenai kunjungan Hayam Wuruk sampai di patukangan.  Juga dalam penelitian peta-peta portugis, ada peta lama yang terkait dengan balumbung atau Balumboam, dan kemungkinan terpusat disini,” Ucapanya.

Melihat sejarah tersebut, Zainol mengaku sangat menyayangkan kerusakan yang terjadi. Dan dia mengancam akan datang lagi jika masih terjadi pengrusakan. “Bilamana masih ada ancaman kerusakan, kita akan datanng ke sini lagi dengan support dan tekanan yang lebih besar. Tak ada maksud lain saya disini keculai untuk menyelamatkan cagar Budaya,” tegas Zainul.

Sedangkan menurut pengamatan BPCB Jatim, lokasi galian yang dilakukan oleh penambang memang sangat beredekatan dengan situ melek yang sudah teregister tahun 2017 lalu. Menurutnya bisa jadi, penambangan itu akan merembet dan melanggar undang-undang cagar budaya.

“Lokasi galian ini sangat berdekatan dengan situs melek yang pernah kita register tahun 2017. Ternyata memang benar di lokasi tambang ini ditemukan benda berupa cagar budaya berupa bata, lumpang batu, dan balok batu.

Dikatakan situs apabila sudah melalui penetapan. Jika peringkat Kebuapten, maka yang mentapkan adalah Bupati.Sedangkan untuk kawasan ini sepertinya belum ditetapkan sebagai cagar budaya oleh bupati. Akan tetapi tetap memungkinkan melangar cagar budaya. Karena sudah teregister oleh BPCB,” ungkap Widodo, salah satu tim BPCB Jatim.

Widodo menambahkan, selanjutnya pihaknya akan melakukan kordinasi dengan Pemda seetempat. “Kita berharap ada kordinasi yang positif dengan Pemda setempat dan aparat terkait. Baik Polsek maupun Polres. Sehingga kedepan akan diambil langkah-langkah yang positif. Juga perlu dilakukan sosialisasi undang-undang cagar Budaya di masyarakat sekitar. Dan untuk penambangan, sementara agar diberhentikan terlebih dahulu sambil menungu proses lebih lanjut,” ungkap Widodo. (cw1)

(bw/mls/ics/JPR)

Source link