Ramadan merupakan bulan yang dinanti dan ditunggu-tunggu seluruh umat muslim dunia. Pasalnya di bulan tersebut adalah kesempatan untuk meningkatkan ibadah dan menanam kebaikan. 

Menanam amal kebaikan salah satunya dengan cara berzakat saat diakhir bulan ramadan. Abdul Wahab Wakil Dekan I Prodi Perbankan Syariah Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS) menjelaskan pentingnya zakat.

Dalam satu tahun wajib hukumnya bagi setiap muslim membayarkan zakat, terutama zakat fitrah. “Kalau zakat mall hukumnya tidak wajib dan bagi yang mampu saja,” kata Wahab kemarin saat dihubungi Waratawan Radar, Minggu (3/6).

Zakat juga sangat berpotensial bagi perekonomian umat jika di perdayakan dengan baik dan benar. Pengertian Zakat di Ajaran Islam sendiri adalah membayarkan harta yang kita miliki dalam jumlah tertentu, wajib dikeluarkan sebagai seorang Muslim dan diberikan kepada golongan atau orang – orang yang berhak menerimanya seperti Fakir Miskin, Anak Yatim, dan lain sebagainya yang menurut ketentuan anjuran dan ketetapan didalam Ajaran Islam.

Jadi secara garis besar, zakat baik secara pemungutan maupun penggunannya adalah bertujuan untuk merealisasikan fungsi-fungsi  ekonomi dan juga untuk bertujuan ibadah kepada Allah.

Zakat dilihat dari segi ekonomi adalah merangsang si pemilik harta kepada amal perbuatan untuk mengganti apa yang telah diambil dari mereka. Ini terutama jelas sekali pada zakat mata uang. Di mana Islam melarang menumpuknya, menahannya dari peredaran dan pengembangan. 

“Oleh karena itu dalam satu tahun umat muslim wajib menyisihkan hartanya yang tidak terpakai untuk membayar zakat, kalau belum ada harta yang tersisih selama satu tahun ya belum wajib. Dalam artian sedang terlilit hutang, atau keperluan lainnya yang lebih urgent,” tambah Wahab.

Pelaksanaan zakat erat hubungannya dengan suatu ekonomi karena ia mendorong kehidupan ekonomi hingga tercipta adanya pengaruh-pengaruh agar orang-orang dapat menunaikan zakat.

“Dalam sistem perekonomian Islam uang tidak akan mempunyai kebaikan dan laba yang halal bila ia dibiarkan saja tanpa dioprasikan, tetapi ia harus terpotong oleh zakat manakala masih mencapai satu nisab dan khaulnya sedangkan Islam mengharamkan riba,” imbuhnya.

Karena itulah, lanjut Wahab, ekonomi Islam yang berlandaskan pada pengarahan zakat akan memberi dorongan terhadap terwujudnya pertumbuhan ekonomi yang pesat.

Pada umumnya harta yang wajib dizakatkan adalah mempunyai sifat berkembang atau sudah menjadi harta simpanan, dan zakat dikeluarkan dari hasil pertumbuhannya, bukan dari modalnya. “Dengan demikian harta itu akan tetap sehat, masyarakatpun sehat dan ekonomi nasionalpun sehat, berkat harta itu berkembang dengan pesat dan seproduktif mungkin,” pungkas Wahab. (gin/rud)

(sb/gin/jay/JPR)