Sehingga, perajin tenun khas Tuban itu masih eksis dan berkembang.

‘’Di Tuban ada sekitar 50 perajin tenun gedog dan mereka eksis,’’ kata Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Tuban Agus Wijaya kemarin (24/1).

Dia mengatakan, kain batik tenun gedog masih mempertahankan proses tradisionalnya.

Mulai dari memintal untuk membuat benang, menenun kain, sampai membuat corak batik dilakukan secara manual dan tradisional.

Pewarnaannya juga menggunakan bahan-bahan alami. 

‘’Untuk kain tenun gedog tanpa bahan kimia karena masih tradisional.

Karena itu, harganya lebih mahal dibanding batik lain,’’ terangnya.

Sementara, untuk batik cap atau batik tulis, di Tuban ada sekitar 1.202 perajin.

Mereka terus produksi dan membuat desain-desain banyak diminati.

Batik tulis atau cap, prosesnya lebih cepat.

Namun, untuk corak batik asal Tuban ada ciri khusus, yang tidak dimiliki daerah lain.

Sehingga, menjadi kebanggaan ketika memakainya. 

‘’Dari corak kita tahu ini batik Tuban. Ini yang menjadi salah satu daya tarik.

Kami terus mengembangkan dan membina para perajin ini agar terus berkembang,’’ katanya.

Salah satu perajin batik tenun gedog Uswatun Hasanah mengatakan, sengaja mempertahankan proses tradisional.

Selain untuk melestarikan budaya, juga menjaga kualitas batik.

Pasar batik produksinya pun menembus pasar luar negeri.

Pasar ekspor banyak meminta batik dengan proses tradisional dan ramah lingkungan.

‘’Dan, produksi kami memenuhi itu. Sehingga banyak diserap pasar luar negeri,’’ ungkapnya.

(bj/ono/rij/bet/ch/JPR)

Source link