PT. PLN (Persero) Pembangkitan Tanjung Jati B (Kit TJB) menutup bulan K3 (kesehatan dan keselamatan kerja) dan me-launching Corporate Social Responsibility (CSR) tahun ini di Balai Desa Tubanan, Kembang, kemarin. Salah satu di-launching desa tanggap bencana. Selama lima hari sebanyak 50 peserta dari empat desa (Desa Tubanan, Kaliaman, Bondo, dan Kancilan) terlibat dalam pelatihan itu.

SEMANGAT pagi… Pagi, pagi, pagi, luar biasa. Itulah yel-yel yang dikomandoi oleh pelatih Tagana. Setiap mengawali sesi yel-yel itu jadi semangat memulai kegiatan. Yel yel ini diharapakn peserta tetap semangat latihan.

Selama pelatihan, para peserta terlihat sangat antusias. Selain karena masih awam materi, beberapa pekan terakhir Jepara banyak ditimpa bencana alam sehingga membuat mereka tidak sabar untuk terjun ke lapangan.

Pelatihan ini berlangsung lima hari, sejak Minggu (11/2) hingga Kamis (15/2).  Selama dua hari, mereka dilatih teori penanganan bencana. Tiga hari sisanya praktik. Meliputi water rescue, evakuasi korban bencana alam, shelter atau pendirian tenda darurat, dan dapur umum.

Para perwakilan desa yang mengikuti latihan ini diharapkan mampu menjadikan masing-masing desanya sebagai desa tanggap bencana. Wakil Koordinator Tagana Kabupaten Jepara Fachrul Abidin menjelaskan jenis penanganan bencana banyak, tetapi dalam pelatihan itu water rescue lebih diutamakan, karena lokasi empat desa menjadi lokasi rutin kecelakaan laut. Utamanya saat musim baratan atau ombak besar.

”Selama lima hari latihan penanggulangan bencana kami fokuskan water rescue, karena laut di sini (perairan di empat desa yang ikut latihan, Red) beberapa kali kapal nelayan digulung ombak. Utamanya saat musim baratan. Tapi kami tidak abaikan pelatihan shelter dan dapur umum,” jelasnya.

Menurut Fachrul-sapaan akrab Fachrul Abidin-pelatihan ini kali pertama dilakukan setingkat desa. Biasanya pelatihan kebencanaan Tagana di tingkat provinsi. ”Kami ucapkan terima kasih kepada PT. PLN (Persero) Kit TJB, karena pelatihan ini masyarakat di tingkat desa bisa paham bagaimana menangani bencana yang baik,” jelasnya.

”Pelatihan ini adalah bagian dari mitigasi bencana. Yaitu ada pelatihan dan pemetaan kondisi wilayah rawan bencana. Seperti inilah (pelatihan kebencanaan, Red) yang seharusnya dilakukan tiap desa. Penanggulangan bencana berbasis masyarakat. Masyarakat bisa mandiri tangani bencana lebih awal. Korban jiwa bisa diminimalisasi,” tambahnya.

Fachrul mengungkapkan, membantu bencana tidak sekadar mau ataupun ikhlas. Tapi harus tahu caranya. ”Jangan sampai, keinginan menolong itu malah menjadi musibah. Orang ingin menolong malah jadi korban. Inilah pentingnya ilmu menangani bencana,” tambahnya lagi.

Selain tanggap bencana, dalam pelatihan itu juga dilatih K3. Ini dikarenakan rata-rata peserta bekerja di sebuah pabrik. ”K3 juga kami ajarkan kepada peserta. Jadi bisa bergerak cepat ketika ada musibah dalam sebuah perusahaan ataupun pabrik,” ujarnya.

Sekda Jepara Sholih yang hadir dalam lauching itu mengaku bangga terhadap PT. PLN Persero Kit TJB. ”Jepara adalah wilayah rawan bencana. Saya sangat mengapresiasi PT. PLN Kit TJB memberikan pelatihan tanggap bencana dengan menggandeng Tagana dan Karang Taruna Dharma Persada,” ungkapnya.

General Manager PT. PLN Kit TJB Ari Basuki mengaku pelatihan kebencanaan ini berangkat dari kesadaran PLN, Jepara termasuk wilayah rawan bencana. ”Kami ingin masyarakat paham bagaimana manajemen risiko bencana. Kalau ada bencana masyarakat tidak gagap atau bingung menangani. Jadi teman-teman Tagana ini bisa siap menangani bencana. (bersambung)

(ks/zen/top/JPR)