SURABAYA– Selain Charta Politika, lembaga survei PolMark juga mengumumkan hasil risetnya atas Pilkada Jawa Timur 2018. Data dari PolMark, Calon Gubernur Saifullah Yusuf (Gus Ipul)- Calon Wakil Gubernur Puti Guntur Soekarno dipilih 42,7 persen masyarakat. Sedangkan Khofifah-Emil mendapat 27,2 persen.

Pengumuman survei dilakukan di Kota Surabaya, 14 Maret 2018. Sementara, responden yang belum memilih 30,1 persen. “Selisihnya cukup jauh, sebesar 15,5 persen,” ujar Direktur Riset Polmark Indonesia, Eko Bambang Subiantoro.

Yang menarik, PolMark juga membandingkan dua kandidat Pilkada Jawa Timur itu dalam sejumlah isu penting. Pertama, komitmen kuat untuk memberantas korupsi. Sebanyak 40,5 warga masyarakat percaya Gus Ipul-Mbak Puti punya karakter anti-korupsi. Pasangan nomor 2 ini dipercaya memilki komitmen tinggi untuk mengelola pemerintahan Jawa Timur yang transparan, bersih dan baik. Sementara, Khofifah-Emil mendapat 22,9 persen kepercayaan dari responden.

Kedua, mewakili masyarakat Jawa Timur yang beragam/majemuk. Survei PolMark menunjukkan, Gus Ipul-MbakPuti mendapat kepercayaan 44,9 persen dari masyarakat. Keduanya dinilai mewakili masyarakat Jawa Timur yang beragam. Sedang Khofifah-Emil mendapat kepercayaan 24,5 persen.

Ketiga, apakah kandidat Pilkada Jawa Timur dipercaya mewakili dan membawa aspirasi umat Islam? Atas pertanyaan itu, sebanyak 46,9 masyarakat meyakini pasangan Gus Ipul-MbakPuti mampu mengemban aspirasi umat Islam. Sedangkan Khofifah-Emil mendapat kepercayaan 24,8 persen.

Keempat, apakah kandidat Pilkada JawaTimur bisa mempersatukan semua kelompok, golongan dan agama? Menurut Polmark, mayoritas warga masyarakat di Jawa Timur percaya Gus Ipul-MbakPuti mempunyai daya pemersatu. Tingkat kepercayaan mencapai 46,2 persen. Sedang Khofifah-Emil dipercayai 22,8 persen.

“Secara keseluruhan, pasangan Gus Ipul-Mbak Puti dipercaya anti-korupsi, mampu menjaga keberagaman di Jawa Timur, mampu mengemban aspirasi umat Islam, serta menjadi figure pemimpin yang mengayomi dan mempersatukan semua,” kata Eko Bambang Subiantoro.

Pasangan Merah Putih

Sejak pendaftaran ke KPU Jawa Timur, 10 Januari 2018 malam, Gus Ipul-Mbak Puti memang membawa spirit Merah Putih. Gus Ipul selalu memakai baju takwa warna putih. Ini selaras dengan latar belakang dirinya sebagai santri, dari keluarga nahdliyin, bahkan cicit dari jalur keturunan KH Bisri Syansuri, pendiri NU dan mantan Rais Aam PBNU.

Sementara Puti Guntur Soekarno tampil sebagai pemimpin yang mewakili kaum nasionalis yang religius. Ia mengenakan kerudung merah. Puti adalah cucu Bung Karno, Sang Proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia.

“Alhamdullilah, Gus Ipul mendapatkan pasangan MbakPuti, cucu pendiri Negara ini. Cucu Bung Karno. Sudah saatnya Jawa Timur dipimpin Gubernur dari NU, santri pandai mengaji dari keluarga NU, bahkan cicit pendiri NU. Ini namanya notonegoro (menatanegara),” kata KH Abdul Ghofur, Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat, Paciran, Lamongan.

Sebagai figure pemimpin yang lahir dari rahim kaum nasionalis, Puti Guntur bergerak aktif menemui masyarakat Jawa Timur dari berbagai golongan dan lapisan. Di setiap daerah, Puti selalu menyempatkan diri sowan para kiai atau bu nyai. Ia juga akrab bertemu para santri dan santriwati. Sambutan terhadap Puti luar biasa.

Misalkan, kemeriahan sambutan ribuan santri di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, dan Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo, beberapa waktu lalu. Para santri menyambut dengan gegap-gempita. “Terima kasih saya telah diterima menjadi bagian dari keluarga besar pesantren di Jawa Timur,” kata Puti saat menghadiri pertemuan para ulama di Pondok Pesantren Lirboyo.

Ia juga menemui penganut aliran kepercayaan di Banyuwangi dan Tulungagung. Puti juga mengunjungi pemimpin Gereja Katolik Keuskupan Surabaya Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono dan Uskup Keuskupan Malang Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan, O.Carm. “Saya menyampaikan salam dari Ibu Megawati Soekarnoputri (Ketum DPP PDIP). Beliau berpesan untuk teguh menjaga Pancasila dan kebhinekaan,” kata Puti kepada Uskup Henricus Pidyarto di Malang.

Puti Guntur juga aktif bertemu dengan kaum nasionalis, marhaenis, Soekarnois. Ia juga bertemu para petani, nelayan, ibu-ibu rumah tangga, para perempuan penggiat pengajian, majelis taklim, menemui pimpinan Aisyiyah Muhammadiyah JawaTimur, turun menemui para pedagang di pasar-pasar, juga menemui pekerja-pekerja di banyak pabrik. “Saya juga bertemu anak-anak milenial, anak-anak muda yang kelak mewarisi bangsa ini,” kata Puti Guntur.

(jo/nk/bin/JPR)

Source link