Dia menjelaskan, selama ini memang banyak keluhan dari masyarakat mengenai beroperasinya tempat karaoke. Selain ada yang tidak berizin, realisasinya juga bertentangan dengan semangat Kota Gerbang Salam.

”Ada penyimpangan, baik dari norma sosial atau keagamaan,” terangnya Selasa (6/2). Jika pun terpaksa dibuka, lanjut Zahid, harus mengacu pada konsep karaoke keluarga yang sudah menjadi komitmen awal.

Selama ini komitmen itu tidak dijalankan. Justru, banyak laki-laki dan perempuan di ruangan gelap. ”Sering kali masyarakat memanfaakan tempat karaoke itu bukan bersama keluarganya,” terangnya.

Zahid menambahkan, pihaknya tidak menolak semua jenis hiburan. Yang harus ditiadakan adalah hiburan yang tidak sejalan dengan misi Kota Gerbang Salam. Untuk hiburan yang tidak bertentangan dengan norma agama tidak ada masalah.

Ketua Paguyuban Pengusaha Karaoke Pamekasan Agus Sujarwadi sebelumnya telah mengklaim pengusaha hiburan akan menaati semua regulasi. Pemandau lagu juga telah diperintahkan untuk mengenakan pakaian yang sopan.

”Intinya pengusaha siap menaati regulasi yang ada,” pungkasnya.

(mr/sin/han/bas/JPR)