Jembatan itu menghubungkan dataran dan waduk. Di bawah jembatan terdapat sungai yang arusnya tak begitu deras. Menginjakkan kaki di bibir waduk suasana terasa beda. Angin menghempas di tubuh.

Sinar matahari tak begitu menyengat karena pepohonan begitu rimbun di dekat waduk. Waduk berbentuk mirip huruf L itu di sisinya ada pepohonan jati. Selain itu, di selatannya terdapat hamparan sawah. 

Di pepohonan jati itu. Para pengunjung membeber tikar. Mereka duduk santai dan menikmati makanan yang dibawa sembari memandangi air waduk yang begitu tenang. 

Di sisi utara, beberapa orang sibuk mendirikan bangunan. Rencananya, di sisi itu akan berdiri beberapa warung menyediakan berbagai kuliner. Tak jauh dari warung-warung itu terdapat rerimbunan pohon bambu. 

Mendekat ke bibir waduk. Ada semacam dermaga. Bukan dermaga pastinya. Hanya mirip untuk bersandar wahana sepeda yang bisa dikayuh di air. Selain itu, semacam wahana air lainnya yang berbentuk mirip bebek. 

Semua pengunjung bahagia dan melepas penat bersama setelah sepekan menikmati tugas kantor hingga tugas belajarnya. “Tempatnya bagus. Dan dekat dengan kota,” kata Lina salah satu pengunjung di waduk itu. Dia ke waduk itu bersama teman-temannya. 

Mbah Ran, salah satu sesepuh ditemui di dekat waduk bercerita tentang mengapa dinamakan Grobogan. Ada yang menyatakan grobogan diambil dari suara air Sungai Loro yang tak jauh dari waduk itu. Airnya gemerobog. Maksudnya, derasnya air sungai itu mengeluarkan suara gemerobog. 

Dulu, kata dia, saat waduk ini sudah ada. Tak banyak orang berkunjung. Sebab, orang menyebut daerah di sini masih angker. Itu sekitar 10 tahun yang lalu. Namun, setelah ada jembatan akhirnya suasana kembali berubah. Apalagi, mulai awal tahun ini.

Setelah ada satu spot untuk foto akhirnya mulai banyak pengunjung yang datang. Kepala Desa Bendo Andi Prabowo mengatakan, pengembangan wisata memanfaatkan Waduk Grobogan Bendo itu dimulai dari inisiasi anak muda desa tergabung di karang taruna. 

Dari kelompok sadar wisata tersebut, mengalir deras ide mempercantik waduk. Salah satunya dengan memberikan lokasi foto. Setelah itu, diunggahlah foto tersebut di dunia maya. Viral, lantas terus menyebar. 

Andi menuturkan, tawaran wahana sementara ini hanya sepeda air. Kelak, akan mengembangkan wisata itu dengang tempat outbound. Dengan begitu, anak-anak bisa bermain di tempat yang lebih nyaman. 

“Jadi nanti ada tempat bermain untuk anak juga,” kata dia. Dia melanjutkan, dalam sehari saat ini bisa mencapai pengunjung hingga seribu lebih. Itu terjadi saat akhir pekan. Pernah parkir motor sampai 800-an. “Itu baru motornya saja belum orangnya,” terang dia. 

Andi mengaku masih akan terus mengembangkan wisata itu agar kelak desanya menjadi desa wisata. Apalagi, kuliner welut bendo dan salaknya sudah banyak yang tahu. 

(bj/yqn/cho/aam/rij/yqn/JPR)

Source link