Kepala Dinkes Bondowoso dr Imron mengatakan, limbah medis yang ditemukan masyarakat baik di tempat sampah, maupun selokan tak selalu dari puskesmas ataupun rumah sakit. Sebab, kata dia, di Bondowoso masih banyak perawat atau mantri, dan bidan ini nakal dalam membuka praktek mandiri. “Kami menertibkan mereka ini ekstra keras agar perawat memberikan pelayanan medis ini dengan benar,” katanya.

Imron menjelaskan dalam memberikan pelayanan, mantri dan bidan tidak boleh memberikan infus seenaknya. “Semua ada aturannya dan SOP-nya,” terangnya. Bidan yang membuka praktek mandiri pun memberikan infus kepada pasien dengan kasus kebidanan. 

Sementara itu, mantri praktek mandiri memberikan infus ke pasien juga dalam keadaan emergency untuk keselamatan jiwa.  Artinya, kata dia, yang memasang mantri tapi langsung dirujuk. Tidak pasang infus ke mantri, dan selesai infus juga di mantri. “Mantri datang ke rumah pasien pasang infus ya tidak boleh, mantri nakal seperti ini masih banyak,” terangnya.   

Bahkan, kata Imron, mantri menyuntik pasien pun tidak diperbolehkan jika tidak atas dasar persetujuan dokter. Semua itu, tambah dia, telah di atur dalam UU praktek keperawatan, dan kebidanan. Mengatasi hal tersebut, kata dia, akan membuat surat teguran. “Kalau mantri itu staf di puskesmas ini masih enak,  bisa membuat surat teguran melalui kepala pukesmas, dengan tembusan ke kapolsek, dan camat setempat. Jika teguran tersebut sampai tiga kali tidak dihiraukan, baru dinkes akan turun tangan,” katanya. Menurut Imron, jika sesuatu itu telah diatur dan tidak sesuai kewenangan jelas itu sudah menyalahi aturan, dan bisa dipidanakan. 

Atas tindakan mantri nakal dengan memakai infus, dan suntik-menyuntik tidak sesuai prosedur tersebut tentu ada bahan yang patut dipertanyakan. Yakni, dimana limbah medis itu dibuang. Sehingga, kata dia, tak semua limbah medis yang dibuang tak sesuai aturan seperti di sekolah, dan tempat sampah itu dari puskesmas maupun rumah sakit. Limbah medis, jelas Imron, dibagi menjadi dua padat, dan cair. Untuk limbah medis cari 15 puskesmas bisa mengolah sendiri karena memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), dan 10 puskesmas memakai resapan.

Sementara untuk limbah medis padat seperti jarum suntik, dan infus ini diatasi dengan alat incinerator. “Di Bondowoso tidak memiliki incinerator, hanya RSU dr Koesnadi yang memiliki itupun khusus limbah padat untuk  RSU dr Koesnadi saja,” katanya. Semuanya baik puskesmas, ataupun rumah sakit telah menjalin kerjasama dengan PT PRIA di Mojokerto. Sementara untuk dokter praktek telah sepakat untuk membuang limbah medis melalui puskesmas. Dari puskesmas tersebut akan dikirim ke PT PRIA. “Dokter praktek tersebut per kilogram limbah medisnya itu bayar ke puskesmas,” pungkasnya. 

(jr/dwi/wah/das/JPR)

Source link