TUJUH tiang persegi tegak berdiri menyangga atap serambi Masjid Baiturrahman. Tujuh bangun lengkung menyerupai ujung topi di bagian atas tiang turut menghiasi tempat ibadah di Desa Keras Kulon, Gerih, itu. Tiang berwarna putih, sementara lengkungnya dicat dominan hijau bergaris kuning.

Lengkung bercat hijau paling tengah agak lebih tebal terlihat ketimbang yang lain. Lebarnya juga. Lengkung berhiaskan kaligrafi arab berbunyi Masjid Baiturrahman itu sejajar dengan pintu ruang utama masjid. ‘’Direnovasi besar-besaran sekitar 2000. Dulunya tidak seperti ini,’’ kata Kiai Dawam Ahmad.

Dawam paham betul sejarah masjid itu. Bukan lantaran jarak tempat tinggal yang hanya selemparan batu dari masjid. Melainkan karena dia merupakan keturunan ke-6 pendiri Masjid Baiturrahman, KH Abdurrahman. ‘’Masjid ini diperkirakan sudah berdiri sejak 1600-an. Mungkin masjid yang tertua di Ngawi,’’ ujarnya.

Abdurrahman disebut-sebut salah seorang putra adipati Pacitan kala itu. Sang kiai bisa sampai ke Ngawi lantaran diminta keluarganya untuk babad wilayah baru. ‘’Katanya, paman dari Kiai Abdurrahman dulu melemparkan semacam lidi. Beliau disuruh babad wilayah di mana lidi tersebut jatuh,’’ papar Dawam.

Konon ceritanya, lidi dilempar sampai ke wilayah Ngawi. Jatuhnya tepat di bawah pohon keras. Tak urung, kawasan itu lantas dinamai Keras yang kemudian dipecah menjadi Keras Kulon dan Keras Wetan hingga sekarang ini. ‘’Kiai Abdurrahman juga dipercaya masih memiliki hubungan dengan Sunan Pandan Aran yang juga masih trahnya Sunan Ampel,’’ urainya.

Petilasan yang berada di sekitar masjid menjadi poin pendukung kisah yang dituturkan Dawam. Di belakang masjid sisi barat terdapat lumpang dari batu atau biasa disebut watu gilang. Kondisinya berlumut dan rompal. ‘’Dulu ada empat, tiga lumpang yang masih bagus hilang sekitar setahun lalu,’’ terangnya.

Masjid yang kini juga memiliki madrasah diniyah dan TPA -terletak di samping utara masjid– itu terus menularkan pendidikan agamanya. Tidak ketinggalan, pembelajaran tentang kitab kuning masih berlangsung hingga sekarang. ‘’Kata Ayah saya, awalnya masjid ini hanya untuk beribadah keluarga. Belum banyak penduduk yang memeluk Islam kala itu,’’ tutur Dawam.

Lambat laun, masjid tersebut mulai disesaki jamaah seiring diterimanya ajaran Islam di masyarakat. Kendati demikian, masjid hanya tersentuh renovasi ala kadarnya kala itu. Saat Dawam masih bocah pun bangunan masjid masih sangat sederhana. ‘’Sekarang sudah ada karpet, kalau saya kecil dulu masih beberan bambu,’’ ucapnya.

Barulah saat menginjak era milenium, masjid dibongkar besar-besaran. Dawam mengingat, serambi masjid yang sekarang ini dulunya adalah sebuah rumah. Lantaran luas masjid tidak mampu menampung jumlah jamaah yang terus meningkat, rumah lantas diwakafkan pemiliknya. ‘’Rencananya, masjid mau ditingkat,’’ kata Dawam. ***

(mn/mg8/sib/JPR)