Ratusan pasang mata di tempat itu tertuju pada satu sudut: pertunjukan teater. Penonton duduk bersila, duduk di kursi, dan ada pula yang berdiri. Tak banyak yang memalingkan wajah, pertanda tak ingin melewatkan hiburan gratis di Sabtu malam itu. Penonton sesekali tertawa melihat kelakuan aktor laki-laki dan perempuan.

Pertunjukan teater tersebut bertajuk ”Perempuan dan Kapal yang Hilang” yang disutradarai R. Nike Dianita Febriyanti. Proses panjang dilalui untuk mengemas pertunjukan kurang lebih satu jam setengah itu. Tidak mudah. Pertunjukan yang mengangkat kondisi sosial masyarakat tersebut menuntut sutradara melakukan observasi.

Bukan sekadar imajinasi. Pertunjukan itu berkisah tentang perempuan yang ditinggal berlayar. ”Saya menggagas pertunjukan ini setelah pulang dari Jogjakarta. Setelah pulang itu, saya berpikiran harus membuat karya,” ucap perempuan muda kelahiran Bangkalan, 2 Februari 1993 tersebut usai pertunjukan.

Tiga bulan lalu Nike mendapat kesempatan melakukan residensi di Jogjakarta. Dia menimba ilmu kesenian di Teater Garasi. Di situlah dia mendapat bimbingan khusus. Mulai cara mengonsep, membuat naskah, menonton pertunjukan, hingga diskusi dengan para pelaku seni. ”Untuk membuka wawasan lebih jauh,” tuturnya.

Landasan utama Nike menyajikan pertunjukan yaitu penelitian tugas akhir kuliahnya. Dia mengangkat pertunjukan rakyat Soto Madura. Tema itu tidak jauh dari perantauan. Maka, dia berinisiatif merepresentasikan pertunjukan Soto Madura ke dalam seni teater kontemporer.

”Ada yang melandasi pertunjukan ini, yaitu studi saya tentang Soto Madura. Dalam naskah paten Soto Madura, meski tidak tertulis, tema dasarnya merantau. Ini kontemporer. Ada ruang realitas dan imajinatif. Jadi, tidak sepenuhnya realis dan tidak sepenuhnya absurd,” ungkap Nike.

Kebiasaan merantau orang Madura menjadi inspirasi bagi naskah teater yang dia angkat. Jenis perantauan yang diangkat yakni di lingkungan masyarakat Bangkalan tentang pelayaran. Tidak asal membuat naskah, dia melakukan riset.

”Mulai riset sekitar dua setengah bulan yang lalu. Dua minggu setelah menemukan ide ini, saya pergi bersama aktor ke Arosbaya. Ini bukan murni karya saya. Tapi, kolektif dari semua aktor mencipta,” ucap perempuan 24 tahun ini.

Kebiasaan masyarakat Madura dalam merantau menjadi ciri khas dan menurut dia menarik diangkat di panggung teater. Tekad Nike semakin bulat membuat pertunjukan teater atas dasar kegelisahannya sebagai perempuan. Di Bangkalan banyak kejadian istri ditinggal suami berlayar. Suami lama mengarungi lautan, terpisah jauh dengan daratan dan istri.

Sembari membuat naskah dari hasil riset, Nike mengajak aktor mengetahui aktivitas keluarga pelayaran secara langsung. ”Ini prosesnya bukan naskah sudah ada. Orang Madura banyak yang merantau. Di Bangkalan merantaunya banyak pelayaran,” ucap perempuan yang usai studi S-1 Sendratasik, Prodi Drama, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.

Saat riset, tidak jarang informan perempuan yang ditinggal suaminya berlayar tidak menyambut dengan ramah. Ada sekitar tujuh sumber yang dia wawancarai untuk bahan materi pertunjukan. Ada informan yang senang diwawancarai, ada juga yang cuek.

”Saya yang lebih banyak tanya. Jawabannya cuma iya dan tidak. Akhirnya tidak banyak data secara teks. Tantangannya itu,” kenang Nike.

Proses pra-pertunjukan sangat menarik baginya. Mulai dari riset, penyusunan naskah, keaktoran, hingga persiapan panggung pertunjukan. Tantangan lain yang dihadapi yakni aktor tidak hanya berdomisili di Bangkalan. Separo aktor yang dia pilih tinggal di Surabaya karena masih kuliah. Tidak jarang aktor berlatih secara terpisah.

”Saya suka prosesnya. Saya tidak begitu melihat hasil. Separo aktor saya berdomisili di Surabaya. Jadi sulit. Tidak bisa setiap hari latihan. Kadang saya sendiri yang ke Surabaya. Latihan terpisah,” urai anggota aktif sanggar Komunitas Masyarakat Lumpur (KML) Bangkalan itu.

Hasil tidak akan menghianati usaha. Itulah yang didapatkan Nike dari apresiasi penonton. Remaja hingga lanjut usia larut menyimak pertunjukan yang disajikannya. Bahkan dosen Nike waktu masih kuliah juga ikut menyaksikan.

Penonton yang hadir dari kalangan pegiat seni, akademisi, mahasiswa/pelajar, muda-mudi, dan perwakilan sanggar teater dari sejumlah daerah. Di antaranya, Bangkalan, Malang, Semarang, Trenggalek, Jogjakarta, dan Sumenep.

”Saya kaget dengan penonton yang apresiatif. Banyak apresiasi dari orang-orang yang kompeten. Ada dosen saya yang lihat pamflet kemudian ingin datang,” ujarnya semringah.

Pembina KML Bangkalan M. Helmy Prasetya menyampaikan kebanggaannya kepada Nike yang berani menunjukkan kreativitas pada pertunjukan teater. Menurut dia, tidak semua perempuan muda bisa menyajikan pertunjukan kesenian dengan apresiasi penonton.

Sesepuh KML ini menerangkan, sajian pertunjukan teater dengan judul ”Perempuan dan Kapal yang Hilang” sengaja dibuat berbeda. Namun, tetap tidak meninggalkan nilai estetika pertunjukan.

Dia mengaku, KML tidak akan berhenti berkarya. ”Kita tidak ingin berhenti di sini. Setidaknya terus berkembang. Bisa melaui kerja sama dengan teater di luar Bangkalan. Misalnya, studi keaktoran sebagai bekal kami,” katanya.

Pertunjukan yang mengangkat tema perempuan ditinggal suami berlayar itu cukup sukses disajikan Nike. Tema yang diangkat memang terjadi di Bangkalan sehingga menarik masyarakat umum untuk menonton. Diperkirakan, penonton yang datang antara 450 hingga 500 orang.

”Sangat pas tema ini diangkat. Kami memang mencoba menyajikan pertunjukan dengan estetika kreatif. Seperti penggunaan artistik dan efek lighting,” tuturnya.

Perwakilan Teater Garasi/Garasi Performance Institute Yudi Ahmad Judin juga memberikan apresiasi pada pertunjukan yang bisa menonjolkan isu lokal sebagai tema dasar itu. Menurut dia, pertunjukan ”Perempuan dan Kapal yang Hilang” layak dikembangkan.

”Poin pentingnya, jangan melupakan kekayaan yang ada di daerah kita. Untuk mengawali sebuah penciptaan, ide kita angkat dari persoalan masyarakat setempat. Ini yang menjadi menarik,” ucapnya saat memberikan apresiasi usai pertunjukan di gedung Pendapa Pratanu Bangkalan.

Pertunjukan teater ini juga mendapat apresiasi dan masukan dari para pegiat seni dan para pakar. Di antaranya dosen. Ada juga penyampaian kekaguman penonton.

(mr/bad/hud/han/bas/JPR)