Dalam kesempatan tersebut Kabag Humas PDAM Kota Denpasar, Gusti Anom Saputra menjelaskan bahwa 16 Januari pengaliran memang sempat dihentikan. Berawal dari pukul 03.15 hingga sampai pukul 17.00 sudah bisa dialiri kembali. “Tetapi kita sudah umumkan sebelumnya kepada warga di sekitaran Denpasar. Baik itu di Denpasar Timur, Barat, dan Utara maupun sekitarnya. Sedangkan dengan lokasi yang lebih tinggi mungkin airnya akan mengecil,” terangnya. 

Gusti Anom juga menerangkan memang ada gangguan pengaliran air dikarenakan kualitas air yang berpasir. Karena aliran air menuju ke terowongan ada endapan pasir, sehingga pasirnya  menyebabkan gangguan pada mesin. Dirinya menjelaskan perlu penggelontoran maupun pembersihan. Bahkan masalah seperti itu hampir setiap hari ditemuinya. 

Ia juga mengungkapkan selain dari aliran Sungai Petanu, suplai air PDAM Kota Denpasar juga dari aliran Sungai Ayung. Agung Anom juga menjelaskan bahwa aliran sungai itu digunakan oleh dua daerah. “Kalau di hulu digunakan oleh PDAM Badung dan di hilir digunakan oleh PDAM Denpasar sendiri. Apa lagi PDAM Badung mempunyai program penggelontoran pada hari Selasa dan jumat. Di samping itu setiap Selasa – Jumat kan kualitas airnya di sini juga berpasir,” terangnya. 

Dirinya menerangkan selalu mengadakan koordinasi terkait penggelontoran agar airnya tetap mengalir. Agung Anom mengungkapkan di wilayah aliran Denpasar Utara dan Barat disuplay oleh PAM Tukad Penet. Meskipun di sana sempat dilaksanakan pergantian pompa, yaitu dari tanggal 3 sampai 10 Januari.  “Saat itu memang tidak ada aliran sama sekali, atau diberhentikan pengalirannya. Tetapi kita ada pendukung dari pipa Blusung,” imbuhnya. 

Dalam kesempatan tersebut pihaknya memohon maaf atas sering terjadinya gangguan aliran air. Terutamanya Agung Anom menjelaskan di wilayah Denpasar utara dan Denpasar Barat yang elepasinya memang lebih tinggi. Dirinya juga mengungkapkan kemungkinan airnya sering mengecil bahkan mati. 

Pada tempat yang berbeda, salah satu warga Denpasar Utara mengaku bernama Arya menjelaskan di rumahnya memang hampir dua minggu airnya terus mengecil. Bahkan terkadang sampai mati, “Kami hanya mengandalkan tampungan air hujan saja untuk mencuci atau masak. Mungkin pihak terkait bisa cari solusi dan tangani hal yang seperti ini supaya tidak berlangsung terus – menerus ,” tandas Arya. 

(bx/ade/yes/JPR)

Source link