Awan menyelimuti langit Dusun Nangger, Desa Bandaran, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, Selasa (20/2). Burung bertebaran saat kuda besi mengaung di sekitar padi yang mulai menghijau. Genangan air membasahi jalan penuh lubang itu.

Dari kejauhan, terlihat perempuan berhijab berada di halaman rumah. Rumah itu berukuran sekitar 5 x 4 meter. Kondisinya jauh dari kata layak. Dindingnya menggunakan seng. Atapnya pakai asbes.

Di dalam rumah menghadap selatan itu, terdapat pria terbaring lemas. Dia adalah Busairi. Usianya masih tergolong muda, 40 tahun. Namun, pria berbadan kekar itu terbaring melawan penyakit yang diderita.

Berdasar analisis dokter, Busairi menderita penyakit asites. Yakni, penumpukan cairan pada perut. Tak ayal, pada kondisi tertentu, perutnya membesar. Bahkan, teramat besar jika dibandingkan dengan kondisi normal.

Titik Handayani, 35, istri Busairi, menuturkan, perut suaminya membesar sejak November 2017. Waktu itu, dia berada di Sulawesi, buka toko peracangan. Sebulan kemudian, karena kondisi Busairi memburuk, pasangan yang tidak dikaruniai anak itu memilih pulang kampung.

Semasa di Sulawesi, Busairi sempat dibawa ke rumah sakit. Namun, sejak di Pamekasan, Busairi tidak pernah berobat secara medis. ”Mengandalkan obat luar yang diberi orang pintar,” kata Titik.

Salah satu alasan Busairi tidak dibawa berobat ke rumah sakit lantaran keterbatasan biaya. Sebab, Busairi tidak memiliki kartu BPJS Kesehatan. Akibatnya, biaya pengobatan ditanggung sendiri.

Kondisi Busairi semakin parah. Pada saat kesehatannya membaik, yang bisa dilakukan hanya berbaring dan duduk. Sementara aktivitas lain tidak bisa. ”Kalau kerja lainnya tidak bisa,” imbuhnya.

Dokter Obed, petugas medis dari Puskesmas Bandaran, mengatakan, hasil pemeriksaan sementara, Busairi mengidap penyakit asites. Tetapi, untuk menentukan penyakit yang sebenarnya, harus dilakukan uji laboratorium dan USG.

Melihat warna kencing Busairi, ada dugaan mengarah pada penyakit hati. Sebab, warna seni Busairi agak kemerah-merahan. ”Harus segera ditangani secara berlanjut,” katanya.

Menurut Obed, beberapa waktu lalu tim medis dari puskesmas melakukan pemeriksaan. Kemudian, pasien dianjurkan dirujuk ke rumah sakit. Namun, Busairi tidak bersedia lantaran keterbatasan biaya.

Ketua Komisi I DPRD Pamekasan Ismail mengatakan, sangat disayangkan ada warga miskin yang tidak terakomodasi BPJS. Akibatnya, keluarga memilih tidak membawa penderita penyakit asites itu ke rumah sakit lantaran keterbatasan biaya.

Ismail akan mengupayakan agar Busairi memiliki kartu BPJS. Dengan demikian, biaya pengobatan Busairi bisa ditanggung negara. ”Kesehatan warga miskin tanggung jawab negara,” katanya.

Politikus Demokrat itu akan berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Tujuannya, agar pendataan warga miskin lebih maksimal. ”Sangat disayangkan pemerintah tidak hadir saat ada warga yang menderita,” tandasnya.

 

(mr/pen/hud/han/bas/JPR)