Hujan mengguyur Desa Telang, Kecamatan Kamal, Bangkalan, Sabtu malam (9/12). Sepanjang jalan muda-mudi berlindung di bawah atap, berharap hujan tak membasahi tubuh. Sesekali genangan air hujan tergilas ban motor yang melintas sehingga menimbulkan cipratan.

Di kampus Universitas Trunojoyo Madura (UTM) bunyi-bunyian dari alat musik tradisional menggema. Bunyi gendang, saronen, dan gong. Suara melengking terpusat di depan Gedung Cakra UTM. Mahasiswa berkumpul. Tatapan mereka mengarah ke pertunjukan.

Tul Jaena Jaejatul Pak Jayati. Beberapa kali lagu zaman old itu melantun. Dengan gaya dan irama sendiri, dua biduan ala pertunjukan sandur menghibur. Keduanya berpakaian layaknya perempuan. Satu orang berpakaian adat Madura mengiringi.

Satu per satu nama dipanggil dari pengeras suara. Mulai dari petinggi kampus, tokoh masyarakat, hingga mahasiswa. Nama yang terpanggil menunjukkan keahliannya melakukan gerakan tari tradisional. Meski gerakannya berbeda, semuanya menari dalam gembira.

Acara tersebut untuk memeriahkan Dies Natalis Ke-17 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Nanggala UTM. Ketua Umum UKM Seni Nanggala UTM Zainur Rozi menyampaikan, pertunjukan dihadirkan ke tengah-tengah mahasiswa untuk lebih mencintai budaya lokal. Dengan demikian, keberadaannya tidak terkikis zaman.

”Grup sandur dari Bangkalan. Kami ingin mengenalkan kepada teman-teman di luar Madura kalau di Madura itu ada seni budaya sandur. Sekaligus ingin ikut melestarikannya,” tutur dia.

Mahasiswa yang larut dalam pertunjukan bukan hanya dari UTM, melainkan lintas daerah di Madura. Dari Sampang, Pamekasan, dan Sumenep juga turut serta. Bahkan, terdapat mahasiswa perwakilan dari luar Madura yang ikut menyaksikan pertunjukan tradisional tersebut.

”Dari Malang ada teater Kertas, Lingkar, dan Teater Koboi Universitas Brawijaya. Ada pula Teater Semut dari Sampang. Pamekasan banyak. Teater Pangestu, Akura, Kaget. Dari Sumenep ada Teater Lentera dan Cemara,” sebutnya.

Pertunjukan tradisional sandur disajikan sebagai media pembelajaran bagi kaum intelektual yang bergelut di bidang kesenian. Saat ini pertunjukan seni budaya lokal perlu terus dihadirkan ke tengah-tengah mahasiswa. Harapannya, mahasiswa merasa memiliki kesenian tradisional.

”Bisa belajar dari pelaku seni tradisional. Bagaimana proses dan keseniannya. Yang paling penting, generasi muda bisa tahu dan semakin cinta kepada budayanya sendiri,” terangnya.

Anggota Teater Lingkar Daus mengaku heran dengan pertunjukan sandur. Sebab, para vokal yang berperan sebagai perempuan berjenis kelamin laki-laki. Dia tidak menyangka suaranya persis dengan perempuan saat bernyanyi.

”Heran. Kenapa seorang laki-laki dandan seperti itu. Kenapa tidak wanita. Kok bisa bersuara perempuan,” ucapnya keheranan.

Dia mengaku kagum dengan keberagaman seni budaya di Madura. Tidak hanya tentang karapan sapi, musik, pertunjukan, dan tari-tari tradisional juga mengagumkan. Menurut dia, seni yang menarik seperti sandur perlu terus dilestarikan dan diperkenalkan lebih luas.

”Sangat bagus. Ada banyak proses yang bisa kita pelajari dari pertunjukan ini. Kekompakan antara pemusik dan para lakonnya. Harus tetap lestari,” harapnya.

(mr/bad/hud/han/bas/JPR)