Lumajang memang kota kecil. Tetapi kabupaten yang berdiri pada 1.255 M ini punya potensi yang melimpah. Meski sering disebut area kantong karena tidak dilintasi jalur transportasi utama, namun daerah dengan 1.790,90 km2 ini punya segudang harapan.

Apalagi pada momen Pilkada 2018 nanti. Lebih dari sejuta penduduk punya harapan besar. Mereka ingin, kota yang terdiri dari 21 kecamatan ini bisa maju dan berkembang. Tidak cuma itu-itu saja tanpa prestasi yang melejit. 

Tak heran jika belakangan ini, di setiap warung kopi, di pasar-pasar, bahkan di majelis-majelis taklim aroma pilihan kepala daerah sudah mulai dirasakan. Setiap perbincangan tidak lepas dari siapa calon yang didukung. Mengunggulkan yang sana, mengelu-elukan yang situ, sampai saling guyon dan saling ledek mulai mewarnai suasana.

Dari sekian obrolan itulah, muncul perkiraan siapa yang bakal menang mendulang suara terbanyak dari  rakyat. Muncul juga pikiran dan harapan. Tentang bagaimana seharusnya membangun Lumajang.

Akademisi juga punya secuil harapan. Kasno T. Kasim, dosen di kampus STIE Widya Gama Lumajang menilai birokrasi sebagai ujung tombak efektifitas pemerintahan dalam memberikan pelayanan perlu ditata dan diperkuat. “Sehingga mampu menjadi simbol pelayanan prima yang profesional,” ungkapnya.

Bupati ke depan, kata dia, harus memiliki ketajaman dalam melihat potensi Lumajang. harus dikembangkan sebagai icon pengembangan ekonomi daerah. “Pengembangan sektor ekowisata dan pemberdayaan UMKM misalnya, itu sangat potensial,” jelasnya.

Pada sektor keamanan sebagai penunjang pembangunan juga perlu terjamin. “Jangan lagi ada begal di mana-mana. Jangan lagi narkoba dimana-mana,” tambahnya.

Untuk tata kelola, pemerintahan termasuk hubungan kelembagaan eksekutif-legislatif dan yudikatif harus terkonstruksi dengan benar. Tidak serta merta. Sehingga pemerintahan dapat berjalan dengan efektif dalam menopang pembangunan daerah menuju kesejahteraan masyarakat.

Dari kalangan anak-anak muda yang peka perkembangan zaman dan teknologi tentu tidak ingin kreativitas tersumbat. Butuh penyaluran yang pas. Diharapkan bupati nanti bisa mengakomodasi kreasi-kreasi mereka.

Djohari Irianto, salah satu pegiat komunitas dan pelaku pemberdayaan masyarakat di Lumajang sangat berharap ada nuansa baru setelah bupati terpilih nanti. Dia dan ratusan pegiat komunitas dan pemberdayaan inginnya ada kepedulian.

Tentu tidak jauh dari sosok pemimpin yang akomodatif. “Serta peka terhadap geliat pemberdayaan. Sebab, di situlah karya-karya kita tunjukkan yang semuanya demi Lumajang,” ungkapnya.

Dia juga berharap, bupati terpilih nanti mampu memahami dan memberikan wadah. Serta kesempatan yang lebih luas kepada seluruh pegiat pemberdayaan untuk berkarya. Bebas menunjukkan kreativitasnya mampu beraktualisasi tanpa sekat,” ujarnya.

Sosok bupati nantinya sangat diharapkan bisa tegas. Hadir sebagai pengayom ntuk masyarakat Lumajang. Tidak ada sekat-sekat kepentingan. “Dan terpenting adalah sosok bupati yang menjadi problem solving bagi setiap persoalan. Bukan malah menyembunyikan persoalan,” katanya.

Dari komunitas olahraga juga punya harapan besar. Ngateman SH, ketua KONI Lumajang sempat ditemui dan ditanya bagaimana harapannya pada bupati terpilih 2018 nanti. Lelaki yang juga bos Amanda Group ini mengaku juga ingin terus mendapat dukungan bupati terpilih nanti dalam memajukan olahraga di Lumajang. 

Dia meyakini, akan muncul calon dari tokoh-tokoh terbaik di Lumajang. “Harapan kami, dari tokoh yang baik itu, bisa dipilih dengan nurani jernih. Dan terpilih yang terbaik dari yang baik,” ujarnya.

Berkaitan dengan siapa pun yang akan memimpin Lumajang, KONI tetap berharap bahwa bupati kelak lebih peduli pada kemajuan olahraga. “Kemajuan tidak bisa dilihat dari prestasi semata. Bicara prestasi berarti bicara kewajiban pemerintah dengan menyiapkan sarana dan prasarana penunjang yang lain,” ujarnya.

Semua elemen yang ada harus ada perhatian. Termasuk pada atlet, para pembina harus dan juga pada purna atlet. Mereka yang mantan atlet berprestasi itu masih layak dapat apresiasi dan perhatian. Jangan sampai nanti setelah purna tidak dihiraukan, tidak ada pegangan hidup. “Ada beberapa sekarang ini. Harapan nanti ada perhatian. Jika ada anggaran nanti walaupun tidak banyak perlu adalah kepedulian buat mereka,” tambahnya.

Dia meyakini, kewajiban mengantar generasi Lumajang sebagai atlet profesional. Dan juga yakin bisa mencari nafkah dari profesionalismenya menjadi atlet. “tapi yang tidak dapat? Ya harus diopeni,” ujarnya.

Dia menyebutkan masih banyak atlet yang kurang dapat perhatian. Makanya perlu perhatian kongkrit. Seperti mereka yang sudah manula jangan sampai sakit kekurangan gizi. Jaminan BPJS juga perlu terakomodir.

Kelayakan kehidupan sosialnya perlu dirawat. Contoh Sodik yang sampai rumahnya reyot. “Kan tidak seharusnya begitu,” tambahnya. Mereka masih layak dapat apresiasi sebagai pahlawan daerah yang perlu ditampilkan. 

Baik pada momen Harjalu ataupun momen lainnya. “Diajaklah mereka. Diundang dan dilibatkan berdiskusi berbagi pengalaman. Belajar pada mereka. Kalau terjadi mereka akan merasa senang. Bupati nantinya perlu harus peduli dengan begini-begini ini,” pungkasnya

(jr/fid/sh/das/JPR)

Source link