Prodamas Award  2018 menjadi peristiwa besar bagi warga RT 01 RW 01 Kelurahan Banjaran, Kecamatan Kota. Bagaimana tidak, mereka bisa mengungguli ratusan RT lain. Terpilih menjadi pemenang di kategori ekonomi. Keberhasilan yang disambut suka cita seluruh warga.

Yulianto, ketua RT 01 RW 01, mengaku bahwa dia dan warganya tidak ada yang menyangka mendapatkan penghargaan khusus dalam bidang ekonomi. “Gimana mau menyangka, kusionernya saja saya malas mengisi. Pesaingnya itu lo se (Kota) Kediri,” aku Yulianto.

Ya, Yulianto mengakui awalnya pesimistis bisa memenangkan lomba. Dia menganggap usaha yang dilakukan RT-RT lain pun tak kalah bagus. Apalagi, selama ini dia dan warganya hanya berharap kegiatan itu bisa membuat dia dan ibu-ibu di wilayahnya produktif. Dapat menghasilkan uang.

Mereka mulai merintis kelompok jahit beranggotakan ibu-ibu itu sejak Maret 2015. Yang mengawali adalah Yulianto dan istrinya, Diyah Kustiana. Kebetulan sang istri sangat gemar jahit-menjahit.

Karena belum punya keahlian di bidang jahit-menjahit, berbagai upaya dilakukan RT ini. Termasuk memanggil yang ahli untuk memberikan pelatihan. “Awalnya saya juga manggil anak SMK (sekolah menengah kejuruan, Red). Jatah selama 10 hari untuk melatih ibu-ibu yang belum bisa,” terangnya.

Ternyata, hasilnya saat itu belum optimal. Hasil jahit yang dibuat ibu-ibu itu kurang bagus kualitasnya.

Yang patut diacungi jempol, semangat ibu-ibu dalam belajar sangat besar. Mereka tak kenal bosan belajar menjahit. Belajar dengan cara manual. Menjahit di kertas dengan pola lurus. Yulianto dan istrinya juga bersama-sama dengan ibu-ibu itu ikut belajar.

Tak hanya masalah teknis saja kendala yang mereka hadapi. Kelompok jahit yang dirintis RT ini pun sempat mendapat cibiran. Bahkan dari warga sendiri. Saat awal merintis, banyak warganya yang berpandangan pesimistis.

“Ada yang bilang buat apa mesin jahit? Kenapa muluk-muluk border bila jahit saja belum lancar?” ujar ayah enam anak ini menirukan omongan warga yang kurang senang dengan aktivitas ekonomi tersebut.

Beruntung, para anggota kelompok yang mayoritas berusia ‘senior’ ini tak patah arang. Tetap bersemangat tinggi. Semangat yang tak kenal menyerah itu membuat kelompok jahit yang terdiri dari 8 hingga 10 orang ini terus mengalami perkembangan. Dari yang semula hanya fokus jahit menjahit bendera (umbul-umbul) menjadi bisa membuat baju sehari-hari bagi ibu-ibu di kelompok tersebut.  Bahkan, berkembang ke keahlian border.

“Dari umbul-umbul itu saat ini kelompok kami juga bisa membordir dengan motif-motif indah,” terangnya.

Diyah Kustiana, yang juga salah seorang anggota Melati Collection mengungkapkan haru serta kegembiraannya meraih penghargaan tersebut. “Saya dan ibu-ibu sempat ada firasat masuk nominasi ketika melihat undangan Prodamas. kok ada foto saya,” terangnya sambil mengerutkan dahinya.

Juga ia jelaskan bila dirinya sempat mengalami jantung berdebar ketika malam puncak Prodamas Award. Saat itu dia menyaksikannya di salah satu stasiun televisi lokal, perasaannya didera ketegangan. Akhirnya, senyum ceria muncul ketika nama RT mereka disebut oleh pembawa acara.

Keberadaan kelompok jahit ibu-ibu di RT 01 RW 01 Kelurahan Banjaran ini juga tidak lepas dari peran Abdul Ghani, ketua RW 01. Yulianto menegaskan bila Ghani membagi pos-pos produktif untuk keempat  RT di wilayahnya. “Untuk RT 01 jahit-menjahit, RT 02 aneka kue, RT 03 masakan, dan yang RT 04 pengelasan,” ujar laki laki kelahiran 1958.

Ia juga menjelaskan bukan tanpa alasan ia menyepakati pembagian pos-pos tersebut. “Begini, kalo masakan bisa saja meredup. Tapi saya yakin kalo untuk jahit tidak akan mati karena memang dibutuhkan selalu,” terangnya sambil tersenyum.

(rk/die/die/JPR)

Source link