BIKIN HEBOH: Nisan raksasa di Desa Ganting Wetan, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo. Nisan buatan Bintaos itu sempat bikin gempar.
(Istimewa)

KRAKSAAN – MUI Kabupaten Probolinggo masih melakukan kajian terkait kontroversi patung batu nisan raksasa yang ada di Desa Ganting Wetan, Kecamatan Maron. Rencananya, MUI akan mengundang Nur Slamet alias Bintaos, Kamis (12/7) mendatang, untuk menanyakan maksud pembangunan nisan raksasa tersebut.

“Kami akan panggil Bintaos untuk dimintai klarifikasi. Rencananya, Bintaos dipanggil Bakorpakem tanggal 12 Juli besok,” kata Sekretaris MUI Kabupaten Probolinggo Yasin pada Jawa Pos Radar Bromo, Minggu (8/7). Undangan pemanggilan itu sebagai upaya Bakorpakem untuk meminta penjelasan dari Bintaos.

Yasin menuturkan, sebelum ada pertemuan dengan Bintaos, pihaknya tidak bisa memutuskan apa-apa. “Pertemuan dengan Bakorpakem beberapa waktu lalu masih pertemuan awal. Kami masih akan melakukan kajian soal keberadaan bangunan batu nisan raksasa itu. Jadi, masih belum diketahui, apakah ada penyimpangan atau tidak.”

Lebih lanjut Yasin mengatakan, sejauh ini pihaknya memandang keberadaan batu nisan raksasa itu sebagai sebuah ketidaklaziman. Apalagi, pihaknya juga mendapat laporan tokoh masyarakat, bahwa sebagian warga resah dengan keberadaan batu nisan tersebut.

Selain itu, kontroversi yang dilakukan Bintaos bukan kali pertama ini. Sebelumnya, yakni pada 2013 lalu, Bintaos juga membangun sebuah patung Dewi Sri dalam ukuran besar. Patung itu kemudian dirobohkan oleh pemkab atas desakan masyarakat.

Sementara itu, Bintaos sendiri saat ditemui media ini, mengaku siap menghadiri undangan dari Bakorpakem. Ia beralasan tidak ada yang salah atas pembangunan batu nisan raksasa itu. Bintaos berdalih, batu nisan ukuran besar itu dibangun untuk persiapan pemakaman dirinya. Supaya dirinya ingat mati dan anak cucunya selalu ingat serta mendoakannya.

“Batu nisan itu dibangun di atas lahan saya sendiri. Bangunan batu nisan itu juga karena bentuk kecintaan saya atas seni. Tidak ada ceritanya membangun patung harus ada izinnya,” terangnya.

(br/mas/fun/fun/JPR)

Source link