Tingginya gelombang membuat mereka mengurungkan niat untuk mencari ikan. Hanya segelintir nelayan yang berani menerjang tingginya ombak di kisaran 3—3,5 meter seperti saat ini.  

Halimi, salah seorang nelayan, mengungkapkan bahwa dia sudah bermingu-minggu tidak berani melaut. Dia bersama rekan sejawatnya hanya bisa duduk-duduk di tepi pelabuhan sambil memancing ikan seadanya. 

‘’Hampir seluruh nelayan tak berani menaikkan jangkar,’’ ungkapnya.

Nelayan 35 tahun itu mengaku tak ingin ambil resiko melaut di masa cuaca buruk dan gelombang tinggi. Dia pilih berpikir realistis memilih mengurungkan niat melaut ketimbang pulang tinggal nama. 

‘’Kalaupun melaut, nggak pernah sampai ke tengah,’’ lanjutnya. 

Menurut Halimi, kondisi cuaca buruk selalu terjadi di sepanjang November hingga Februari. Diperkirakan, gelombang di 10—20 mil ke atas sekitar 3—3,5 meter, serta kecepatan angin hingga 25 km/jam. 

Dalam kondisi itu, kapal tak bisa melingkari ikan untuk penebaran jaring lantaran terombang-ambing ombak dan angin. Meskipun di masa gelombang pasang ini ikan di laut cenderung lebih banyak. 

‘’Daripada kenapa-napa, lebih baik vakum sementara,’’ ujar nelayan asal Tamperan itu. 

(mn/sib/jpr/sib/JPR)