Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jember Isman Sutomo mengakui kondisi itu. Namun sebelumnya tidak bisa berbuat banyak. Karena wewenang mengatur transportasi laut, baru bisa dikelolanya tahun 2017. “Dinas kami baru punya bidang transportasi udara dan laut, sejak tahun lalu,” akunya, Rabu (2/5) kemarin.

Padahal bukan hanya perlengkapan keselamatan seperti pelampung dan life jackets (jaket penolong) yang perlu disiapkan. Beberapa perlengkapan administrasi, termasuk kartu identitas, juga perlu dibawa saat melaut. “Identitas itu juga penting,” imbuhnya.

Isman mengatakan, melaut taruhannya dengan cuaca. Semisal nanti tiba-tiba cuaca ekstrem datang mendadak, setidaknya mereka yang siap akan lebih aman. “Kami mendorong supaya nelayan juga siap meminimalkan risiko saat terjadi insiden kecelakaan di tengah laut,” terangnya.

Isman mengakui, belum tahu rapor angka kecelakaan laut di Jember. Karenanya, pihaknya masih butuh komunikasi dengan pihak lain, termasuk Dishub Jatim maupun polisi air dan udara. “Sebulan lalu, ada sekitar 300 jaket penolong yang kami berikan ke nelayan,” akunya.

Masih kata Isman, pihaknya juga mengatur perahu wisata yang dikelola masyarakat pesisir. Saat ini, masih ada sekitar 20 perahu wisata di Payangan, Papuma, dan Puger. “Bahkan, perahu wisata harus lebih safety (aman, Red). Karena ada penumpang yang awam dengan laut,” jelasnya.

Sutrisno, salah seorang pemilik perahu wisata di Pantai Payangan Ambulu menilai, usaha perahu wisata lebih menjanjikan dibandingkan perahu tangkap ikan. Terlebih, saat cuaca mulai tak menentu dan musim tangkap ikan sulit berpihak pada nelayan.

Belum lagi saat musim ikan, harganya selalu anjlok yang akhirnya nelayan seperti tidak ikut merasakan manisnya keuntungan. Meski demikian, menjalankan usaha perahu wisata, memang membuat Sutrisno bingung. Terlebih, soal memenuhi kelengkapan keselamatan. “Mau beli jaket penolong saja harus beli online,” akunya.

Bukan hanya itu, pihaknya juga sadar keselamatan penumpang jadi tanggung jawabnya. Sebagai pelaku perahu wisata rintisan, sebenarnya dia ingin semua penumpang bisa dilindungi asuransi. “Kadang ketar-ketir. Keinginannya, bisa kerja nyaman tanpa risiko,” tuturnya.

(jr/rul/hdi/das/JPR)

Source link