Jawa Pos Radar Madura (JPRM) mendapat undangan menghadiri pengajian di Sekitar Jalan Adirasa. Bukan pengajian biasa, melainkan pengajian soal musik. Selain seniman dari Kota Sumekar, kegiatan itu dihadiri seniman dari Sidoarjo. Di tengah hujan yang mengguyur Kota Sumenep koran ini berangkat.

Tidak terlalu jauh jaraknya, hanya sekitar 15 menit sudah sampai. Di lokasi telah berkumpul para seniman. Ada yang berseragam kaus dengan warna hitam dan putih. Ada juga yang berpakaian bebas serta menggunakan blangkon. Kedatangan koran disambut dengan ramah oleh beberapa seniman.

Meski meleset dari jadwal yang tertera di undangan, koran ini belum terlambat. Diskusi mengenai musik baru berjalan. Banyak seniman yang hadir dalam kegiatan itu. Di antaranya adalah Turmedzi Djaka, Faiqul Khair Al-Kudus, Sangat Mahendra, Rifan La Ngetnik, dan rombongan yang berjumlah sekitar 25 orang. Mereka tergabung dalam Komunitas Kalonta Sumenep.

Hadir juga Kepala Divisi Musik As Shafa and The Band dari Ponpes Ahlus Shofa Wal Wafa Zamroni dan 23 anggotanya bersama ketua rombongan Nyomi. Suasana keakraban sangat terasa saat itu. Kebanyakan di antara mereka baru pertama bertemu. Meski begitu, mereka seperti tidak memiliki sekat satu sama lain. Semua berbaur dalam obrolan soal musik.

Banyak pertanyaan yang muncul ketika sesorang mendalami musik. Lalu, bagaimana menjawabnya? Dan apakah harus sama? Mereka yang menjawab memiliki persepsi sendiri. Sebagian besar berbeda. Namun, ada beberapa yang mengutarakan hal sama.

”Saya tidak punya aliran dalam bermusik. Memang aliran itu muncul dari intelektualitas, tapi itu justru mengkotak-kotakkan musik dan itu tidak baik. Saya ingin memainkan musik yang beraliran rahmatan lil alamin,” ucap Rifan, diikuti gelak tawa dan tepuk tangan dari peserta diskusi yang lain.

Lalu, statemen lain muncul dari seniman sekaligus Ketua Komunitas Ruang Seni Kalonta Ki Turmedzi bahwa belum bisa mendefinisikan musik. ”Musik itu bebas, tidak bisa didefinisikan, bahkan keberadaannya masih dipertanyakan, kenapa ada? Untuk apa? Kok bisa ada? Selain itu, saya percaya musik itu doa atau mantra,” katanya.

Setelah statemen itu, suasana hening dan hanya terlihat beberapa orang manggut-manggut. Mereka seperti sepakat dengan apa yang diungkapkan Turmedzi.

Pendapat lain mengenai musik datang dari Sangat Mahendra. Pria yang akrab dipanggil Eeng itu menilai bahwa musik adalah getaran. Sesuatu yang dimulai dari getaran dan menimbulkan getaran lain yang selaras. ”Musik adalah resonansi, musik adalah apa pun yang bergetar atau digetarkan. Karena itu, musik adalah getaran yang penuh, total, dan selaras,” ucapnya.

Sedangkan kata Nyomi, musik adalah rasa. Sesuatu yang bangkit di dalam diri ketika sebuah simfoni dilantunkan. ”Dan saya baru tahu itu ketika mendengar lantunan lagu dari Ki Turmedzi tadi,” ucap perempuan itu yang sedari tadi duduk di tangga.

Faiwul Khair Al-Kudus tidak mau kalah. Perempuan yang sejak awal bertindak sebagai master of ceremony (MC) itu ikut menyumbang suara. ”Musik tidak kenal agama apa pun. Musik menyatukan semua golongan, semua aliran, lirik tidak tahu tidak masalah, toh semua bisa menikmati,” kata dia.

Tidak lengkap rasanya diskusi soal musik tanpa bermusik. Begitu mungkin pikiran semua orang yang hadir. Segera saja perbincangan itu berakhir dan digantikan alunan musik dari mereka. Bebagai aliran musik ditampilkan. Mulai musik tradisional sampai musik yang berbau darat dan Timur Tengah, semua lengkap.

Satu lagu yang sempat menjadi pertanyaan bagi koran ini adalah lagu yang dibawakan oleh Tumedzi Djaka dan kawan-kawan. Lagu itu berjudul Hubb (cinta), begitu penjelasan Ki Turmedzi. Lagu itu bercerita tentang rasa cinta yang ditujukan kepada Tuhan, sang Khaliq, pemelihara alam semesta. Lalu, penghayatan tentang hidup dan mati.

”Tak satu pun daun jatuh tanpa kehendak dan iradah-Nya. Maka bagi yang cinta, zikir. Mengingat-Nya dengan menyebut Asmaul Husna-Nya adalah kebahagiaan tanpa tanding,” kata dia.

(mr/aji/han/bas/JPR)