Dalam persidangan yang berlangsung di Ruang Sidang Candra itu, JPU Bernadeta Susan mengatakan Erni dan Deny terbukti melanggar pasal 363 ayat (1) ke-4 dan ke-5 KUHP. “Terdakwa telah melakukan tindak pidana pencurian dengan pemberatan yang dilakukan secara bersama-sama,” terangnya dalam persidangan.

Dalam sidang sebelumnya, telah diperiksa bukti, saksi-saksi, serta keterangan terdakwa. Semuanya membenarkan bahwa keduanya memang melakukan pencurian. Kejadian tersebut terjadi pada Maret. Keduanya berkeliling terlebih dahulu dengan mengendarai sepeda motor. Untuk melihat mana kos-kosan yang sepi. Setelah mendapatkan target, sang istri, Erni masuk dengan santainya ke kosan tak berpenjaga. Sang suami, Deny tetap berada di atas motor untuk berjaga dan mengawasi situasi sekitar.

Saat itu Erni sedang menuju kamar milik korban, Ratna Tri Wardani di Jalan KH Ahmad Dahlan, Kelurahan/Kecamatan Mojoroto. Sampai di depan pintu Erni langsung mencoba membuka pintu kamar dengan 40 kunci yang ia bawa. Dicoba satu per satu. Dari kamar tersebut Erni membawa satu laptop dan uang tunai Rp 1,7 juta.

Kemudian ia berpindah ke kamar sebelahnya. Dan membawa juga laptop seharga kurang lebih Rp 4,6 juta. Setelah itu keduanya langsung kabur. Apabila tepergok penghuni lain, menurut pengakuan Erni, ia akan berpura-pura sedang mencari kos-kosan. Atau ia akan menyamar sebagai pemilik kamar yang barangnya sedang tertinggal.

Perbuatan keduanya menurut JPU telah meresahkan warga. Namun hal yang meringankan adalah keduanya mengakui perbuatannya dan menyesalinya. Keduanya juga bersikap sopan selama persidangan. Setelah tuntutan dibacakan, keduanya meminta keringanan pada Ketua Majelis Hakim Bambang Sucipto. Persidangan ditunda satu minggu untuk agenda putusan.

(rk/yi/die/JPR)

Source link