Film berdurasi kurang dari satu jam itu diputar kembali dalam acara pemutaran dan diskusi film Perancis dan Indonesia. Diselenggartakan Institut Francais Indonesia di Cubicle Center, Surabaya, Minggu(8/7).  Acara tersebut diikuti oleh para mahasiswa dan aktifis di Surabaya. Turut hadir dalam acara tersebut duta besar Perancis untuk Indonesia, à Timor-Est yang juga turut menyaksikan dan berdikskusi bersama. 

Pesan keberagaman dan toleransi disampaikan dengan baik oleh sineas muda dari Surabaya dengan filmnya yang berjudul empat wajah Surabaya. Dalam film itu, diceritakan tentang kota surabaya yang  multietnis dan budaya namun tetap eksis dengan identitas Suroboyo-nya. 

Di awal, film ini menayangkan budaya dan masyarakat Ampel yang majemuk. Sejarah, akulturasi dan perkembangan budaya Ampel ini disampaikan dengan begitu menarik dengan grafis dan sinematografi yang pas. 

Usai menggambarkan suasana Ampel dilanjutkan ke kampung Tambak Bayan dimana penduduknya hidup harmonis dalam tradisi Tionghoa yang kental. Gambaran Surabaya terus diperlihatkan dengan mengarahkan filmnya ke kampung Dukuh, ludruk beserta pemainnya, juga budaya cangkrukan.

Sementara film yang disampaikan oleh sineas Prancis, Remi Decoster, menceritakan pergerakan budaya di lingkup yang lebih kecil. Bagaimana seorang imigran yang datang ke Prancis memaknai pekerjaannya dan masih melakukan sesuatu untuk orang lain.  (is/rud)

(sb/is/jek/JPR)