“ Jaringan perpipaan, embung, dan sumur bor harus terjaga untuk meminimalisir kekurangan air,” kata Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Sudarmawan.

Menurut dia, per 13 September lalu, sudah ada 169 desa se-Jawa Timur yang terdampak. Angka ini terhitung kecil jika dibandingkan potensi rawan terdampak yang mencapai 422 desa. Kendati demikian, BPBD Jawa Timur tetap harus berbagi tugas dengan pemda setempat untuk mengantisipasi potensi kekurangan air. “ Dropping air juga harus melibatkan pemda,” jelasnya.

Pria ramah ini melanjutkan, dari laporan BMKG Stasiun Juanda sendiri, pada September ini dianggap sebagai puncak musim kemarau. Hal ini ditandai dengan cuaca yang panas menyengat saat siang hari. Kendati demikian, ini diperkirakan tidak berlangsung lama, karena pada Oktober mendatang diperkirakan sudah mulai turun hujan. “Ini khusus Jawa Timur selatan, khususnya Tulungagung,” ujarnya.

Kendati demikian, curah hujan yang bakal turun pada bulan depan tersebut belum terlampau tinggi. Bahkan diperkirakan ada di kisaran 0-400 milimeter saja. “Baru pada November nanti sudah benar-benar masuk musim penghujan,” tandasnya.

Sebelumnya, Kepala Pelaksana BPBD Tulungagung Soeroto mengatakan sampai saat ini belum ada desa yang mengalami darurat air bersih di Tulungagung. Hal ini ditilik dari belum adanya permintaan air bersih untuk dikirim ke desa bersangkutan. Padahal pengiriman bisa dilakukan jika pemerintah desa setempat langsung melayangkan pemberitahuan kepada BPBD.

(rt/rak/did/JPR)

Source link