Namun, berdasar data bulanan, apabila pada Juni kondisi pariwisata Bali tetap kondusif maka diperkirakan rata-rata okupansi atau tingkat hunian vila mencapai 80-85 persen.

Ketua BVA Bali Gede Sukarta mengatakan, sebelum libur Lebaran, okupansi pada awal Juni 2018 rata-rata berkisar 80 persen.

Tingkat hunian naik menjadi 90 persen saat wisatawan domestik menikmati liburan di Pulau Dewata.

Tingginya okupansi pada libur panjang Idul Fitri tahun ini terjadi di vila yang berada di kawasan Badung selatan.

Namun, tingkat hunian vila di kawasan Sanur tidak berpengaruh signifikan karena marketnya adalah wisatawan Eropa. “Jika dibandingkan Juni tahun 2017 lalu, okupansi rata-rata di atas 75 persen,” sebutnya.

Momen libur Hari Raya Idul Fitri ini okupansi sejumlah villa yang ada di Pulau Bali diisi oleh wisatawan domestik dari kota-kota besar terutama Jakarta.

Meski demikian, okupansi vila saat ini didominasi wisatawan mancanegara (wisman) asal Australia.

“Sekarang (Juni), Juli dan Agustus musim liburan untuk wisatawan asing. Okupansi kami sekarang dominan Australi dan ada juga India, Tiongkok, Singapore. Dan dengan adanya Lebaran okupansi pun bertambah,” terang Sukarta.

Lebih lanjut dia menjelaskan, sekitar 10 persen yang menginap di villa biasanya adalah wisatawan mandiri tanpa ditangani oleh biro perjalanan wisata.

“Libur Lebaran ini hunian wisatawan Timur Tengah tidak berpengaruh signifikan. Kemungkinan liburan ke destinasi lain,” ujarnya.

Sukarta mengatakan, pada Juli hingga September 2018 mendatang rata-rata okupansi villa akan mencapai di Atas 75 persen. “Okupansi pada bulan-bulan itu didominasi oleh wisman,” bebernya.

“Saya contohkan, villa di tempat saya saja untuk reservasi bulan Juli ini sudah masuk 60 persen. Target kita 85 persen.

Apalagi Agustus itu 90 persen target kita. Masing-masing member BVA pun rutin memberikan laporan okupansi harian,” bebernya.

Dia menambahkan, wisatawan asing maupun domestik akan tetap memilih villa sebagai akomodasi selama berwisata di Bali. Hal itu akan berdampak pada kenaikan okupansi vila.

Terlebih pada Oktober mendatang Bali menjadi tuan rumah perhelatan IMF-World Bank. “Tentunya promosi-promosi IMF akan mempengaruhi okupansi vila karena banyak yang ingin datang ke Bali,” pungkasnya.

(rb/zul/mus/mus/JPR)

Source link