“Karena dari pantai bisa dapat berbagai limbah yang bisa diolah, mulai dari botol plastik, kaca, dan berbagai ukuran bohlam bisa dikreasikan,” sebut dia.

Pria asal Roomo ini, bisa menghasilkan benda daur ulang variatif. Mulai dari bohlam hias, pot dari bohlam bekas, tempat lampu dari botol kaca dan banyak lagi. Sebelumnya, saya memiliki usaha untuk pembuatan frame, dan kerajinan plastik. Namun sekarang sedang memanfaatkan limbah setempat yang juga membantu membersihkan lingkungan. “Tidak perlu gengsi sih cari limbah, toh bisa jadi keuntungan,” tuturnya.

Ia bisa mendapat keuntungan Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per unitnya. Dalam sebulan, ia bisa menghasilkan beberapa barang daur ulang. Dengan memanfaatkan pemasaran online, salah satu siswa SMK di Manyar ini banyak mendapat respon baik. “Awalnya yah karena miris melihat, banyak sekali limbah dan hanya dibiarkan, kan sayang sekali, sedang laut di dekat tempat tinggal ini banyak dilewati kapal,” lanjutnya.

Menurutnya, dengan polesan kreatif dari beberapa barang baru seperti kawat dan tali, sudah bisa menghasilkan barang yang bagus untuk diperjual belikan. Hanya saja, butuh ketelatenan untuk melakukan pengecatan pada bagian yang karat dan pencucian. “Inspirasi model vas bunga dan hiasan dari bohlam ini, banyak dapat dari media sosial dan internet sebagai inspirasi,” tutupnya. (est/rof)

(sb/est/ris/JPR)