“Jadi arca tersebut sudah (pernah) ditemukan pada 1996. Dengan kondisi arca bagian atas sudah terpotong. Jadi tinggal bagian kaki yang bersila saja,” terang Kepala Seksi Museum dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemkab Kediri Eko Priatno.

Sebelumnya, pencari rumput menemukan benda purbakala di Dusun Jagung, Desa Jagung, Kamis (22/3). Penemunya adalah Karni, 49. Warga Bangsongan, Kecamatan Kayenkidul itu tengah mencari rumput di tengah-tengah ladang tebu. Karni menemukan dua benda purbakala itu berada di bawah tanaman pisang. Dalam posisi tertutup rerumputan.  

Menurut Eko, setelah mendapat laporan tentang penemuan itu, pihaknya segera melakukan pengecekan ke lokasi. Mereka kemudian melakukan pengkajian lebih jauh, pihaknya memastikan bahwa itu bukan temuan baru. Fragmen arca berupa kaki yang bersila dan umpak tersebut sudah pernah ditemukan sebelumnya.

Penemuan pertama kedua benda itu terjadi pada 1996. Temuan itu dengan nama Wali Sarjiman atau Punden Reco Putil. Hal itu sudah diterangkan dalam dokumentasi buku arca Kediri. Dengan nomor 109/KDR/1996. Sementara, bagian umpak sebagai pelengkap saja.

Mengapa arca yang sudah tercatat dalam dokumentasi purbakala bisa tertanam lagi di dalam tanah? Sehingga kembali ditemukan oleh warga? Menurut Eko, dalam dokumen arca tersebut, benda-benda tersebut dulunya bersama dengan punden di Dusun Jagung. Saat itu pemilik tanahnya adalah Zainal.

Nah, karena kepemilikan tanahnya berpindah tangan, akhirnya punden jadi tak terurus. Itulah mengapa akhirnya punden tertutup rerumputan. Arca dan umpak batu pun seperti barang yang tertanam di tanah.

“Kemungkinan punden tersebut sudah lama tak diuri-uri (dirawat, Red) oleh masyarakat setempat Mbak. Sehingga dengan mudah dilupakan,” terang Eko.

Menurut data Dokumentasi Arca Kediri, potongan arca berupa kaki yang bersila tersebut memiliki panjang 53 sentimeter, lebar 40 sentimeter, serta ketebalan 38 sentimeter. Bahan arca tersebut tertulis dari batu andesit yang warnanya agak hitam.

Penjelasan Eko sama dengan perkataan sang penemu, Karni. Pencari rumput itu memang mengatakan bahwa dulu di tempat itu berupa punden. Yang sering dijadikan lokasi untuk melakukan ritual. Masyarakat sering menempatkan sesaji di lokasi itu.

“Kalau dulu sering digunakan untuk ritual, tapi sekarang sudah tidak lagi,” aku  Karni.

Karni mengaku tak melaporkan penemuannya itu ke siapapun. Termasuk ke pemerintahan desa setempat. Kepala Desa Jagung Surani pun mengaku belum tahu soal penemuan tersebut. “Belum ada laporan Mbak,” ujarnya ketika dikonfirmasi soal penemuan arca tersebut.

(rk/die/die/JPR)

Source link