Bagi Nasirun, lukisan Iie memiliki sensitivitas untuk menangkap rasa dan mengandung nilai-nilai spiritual. “Cita rasa karyanya sungguh kental sekali. Layaknya curhatrupa dan representasi dari apa yang ada dalam dirinya,” puji Nasirun di sela pembukaan pameran.

Purwa Caraka, pemrakarsa pameran yang juga kakak Trie Utami, pun tak kalah takjub dengan bakat terpendam adiknya itu. Musisi kenamaan itu pun mengaku pernah mencoba melakukan hal yang sama. namun hasilnya tak memuaskan.  “Saya memang tidak mengikutinya (Trie Utami, Red) ketika melukis. Sehingga hal ini menjadi kejutan tersendiri bagi saya,” ungkapnya.

Dalam pameran yang dihelat hingga 30 maret mendatang, Iie menampilkan 29 karya lukis dan dua sketsa. Sedangkan Nasirun menampilkan 12 karya, terdiri atas dua lukisan, sembilan alat music, dan sebuah karya wayang (28 buah), serta satu karya instalasi.

Karya Nasirun yang cukup menyita perhatian pengunjung pameran adalah lukisannya di atas badan bas betot (contra bass), gitar, dan selo. Serta deretan wayang di atas piano.

“Lukisan itu merupakan apresiasi saya karena pameran kali ini berkolaborasi dengan seorang musisi,” ungkap Nasirun.

Sedangkan Iie mengaku, setiap karya lukisnya dibuat hanya untuk dirinya sendiri. Namun, karyanya itu justru mengantarkannya bertemu dengan banyak seniman. Suntikan dukungan para seniman pula yang membuat Iie berani menggelar pameran karya lukis pertamanya di Jogjakarta. “Melukis bagi saya hanya sebagai katarsis, penyucian jiwa,” ungkapnya.

Bagi Iie, melukis dan menyanyi adalah bentuk meditatif. Musik maupun melukis sama-sama menuai sensasi tersendiri. Dengan penuh kemerdekaan berekspresi, tanpa ada tekanan-tekanan lain yang memengaruhi proses karyanya.

(rj/ong/ong/JPR)

Source link