Sarmi, salah satu petani garam mengatakan, lahan yang digunakan untuk produk garam dipastikan tidak bisa dipanen. Air yang semestinya berubah menjadi garam, kini bercampur dengan air hujan. ‘’Ditambah lagi dalam satu minggu ini cuaca tidak menentu, sehingga minim sekali panas matahari,’’ katanya.

Agar tidak rugi banyak, petani garam memilih panen kurang dari tujuh hari meski kualitasnya kurang baik. Garam yang dijual lebih halus dan lembut. Berbeda berumur tujuh hari dengan cuaca mendukung, bentuk garam lebih bagus dan kristal.

‘’Harga garam dari petani sekarang Rp 2.500 ribu per kilogram (kg), tentunya satu bulan lagi harga garam bakal naik,’’ bebernya.

 Sarmi mengaku mempunyai lahan sekitar 1,6 hektar dan bisa menghasilkan panen mencapai 110 ton. ‘’Saya sekarang masih mempunyai stok digudang mencapai 80 ton garam siap jual. Sekarang ini, petani garam dipastikan gulung tikar karena sudah sering turun hujan,’’ tegasnya. 

(bj/mal/haf/faa/JPR)

Source link