KEDIRI KOTA – Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Kediri 2018 resmi diikuti oleh tiga pasangan calon. Ini setelah KPU Kota Kediri menetapkan ketiganya, tadi malam. Masing-masing adalah pasangan Abdullah Abu Bakar (Mas Abu)-Lilik Muhibbah (Ning Lik), Aizuddin-Sudjono Teguh Wijaya, serta Ashar-Teguh Junaidi.

Penetapan itu dilakukan setelah semua persyaratan yang diserahkan pasangan calon dinyatakan lengkap. “Dengan ini, statusnya tidak lagi sebagai bakal calon. Akan tetapi, sudah resmi menjadi calon wali kota dan wakil wali kota (wawali) Kediri periode 2019-2024,” ujar Ketua KPU Kota Kediri Agus Rofiq dalam rapat pleno yang digelar di Ruang Kilisuci Sekretariat KPU.

Persyaratan dimaksud antara lain surat cuti dari pasangan petahana, Mas Abu dan Ning Lik. Sesuai Peraturan KPU, keduanya memang diharuskan cuti dari tugasnya sebagai wali kota dan wawali selama masa kampanye 15 Februari-23 Juni. “Surat cuti Pak Abu dan wakilnya telah kami terima dua minggu lalu,” terang Rofiq.

Selain itu, juga surat pengunduran diri Sudjono Teguh Wijaya dari anggota DPRD Kota Kediri. Saat ini, ia masih tercatat sebagai anggota legislatif dari Partai Golkar. Hal itu tidak diperbolehkan. Sesuai peraturan, calon yang bersangkutan harus mundur dari keanggotaan DPRD terlebih dulu.

Tentang hal itu, Rofiq mengatakan, yang diterima KPU masih berupa surat pernyataan pengunduran diri. Hal itu dilengkapi dengan tanda terima dari sekretariat dewan (setwan) yang menyatakan bahwa pengunduran diri Sudjono masih dalam proses. “Nanti akan ada SK resmi dari gubernur,” kata komisioner KPU Kota yang sudah menjabat tiga periode ini.

SK resmi dari gubernur itulah yang ditunggu oleh KPU hingga 30 hari sebelum pemungutan suara. “Sementara, surat pernyataan pengunduran diri ini sudah bisa kami terima,” lanjutnya.

Lalu, siapa yang akan menggantikan kursi Sudjono di DPRD? Ketua DPD Partai Golkar Kota Kediri Juwito mengatakan bahwa politikus berlatar belakang pengusaha tersebut akan digantikan oleh Endang Yuniwati. Dia adalah calon legislatif (caleg) Partai Golkar urutan ketiga dalam perolehan suara di daerah pemilihan (dapil) Kecamatan Kota.

Endang meloncati urutan kedua, Supriyadi. “Kami pilih urutan ketiga karena caleg urutan kedua sudah meninggal dunia,” kata Juwito saat dikonfirmasi wartawan koran ini tadi malam. Adapun Sudjono adalah peraih suara terbanyak Partai Golkar di dapil Kecamatan Kota.

Menurut Juwito, keputusan tersebut merupakan hasil rapat pleno DPD Partai Golkar Kota Kediri yang dilangsungkan pada Minggu (11/2) lalu. Intinya, dalam rapat tersebut, partai menyetujui pengunduran diri Sudjono sebagai anggota dewan dari Fraksi Partai Golkar.

“Kami menyetujui karena dia (Sudjono, Red) sudah membuat surat pernyataan pengunduran diri yang juga ditujukan kepada ketua DPRD,” terangnya.

Langkah selanjutnya, sambung Juwito, Partai Golkar akan melakukan pergantian antar waktu (PAW) terhadap Sudjono. Namun, tanggal pastinya belum ditentukan. “Kami masih akan minta persetujuan provinsi (DPD Partai Golkar Jatim, Red). Jika sudah turun, kami langsung buat surat ke DPRD,” jelasnya.

Sudjono sendiri sudah menyerahkan proses pengunduran dirinya kepada mekanisme yang ada. Termasuk, soal figur pengganti dirinya di kursi dewan.

Sementara itu, dalam penetapan pasangan calon tadi malam, seluruh pasangan hadir. Kecuali, Samsul Ashar yang hanya diwakili oleh pasangannya, Teguh Junaidi.

Kepada wartawan koran ini, Teguh mengatakan bahwa Samsul sedang ada keperluan mendadak. “Malam ini (semalam, Red) adiknya operasi jantung,” katanya. Samsul yang dokter spesialis penyakit dalam terlibat langsung dalam penanganannya.

Tadi malam, tutur Teguh, sang adik yang dirawat di RSUD Gambiran akan diberangkatkan ke Surabaya. Ia dirujuk ke RSUD Dr Soetomo untuk diambil tindakan di sana.

Secara terpisah, Abu Bakar mengatakan bahwa surat cutinya sudah diserahkan ke KPU sekitar tiga minggu lalu. Namun, tentang pejabat sementara (pjs) penggantinya per 15 Februari, lusa, ia belum mengetahuinya. “Ini juga masih menunggu,” katanya di sekretariat KPU semalam.

Hingga kemarin, memang belum ada pengumuman pjs kepala daerah petahana se-Jatim yang kembali mencalonkan diri. Itu merupakan kebijakan gubernur.

Namun, Abu menuturkan, jika sampai 15 Februari belum ada ketetapan dari gubernur tentang pjs wali kota, kemungkinan sekretaris daerah (sekda) yang akan menggantikannya. “Tapi, mungkin besok menjelang hari H, pjs sudah diketahui,” tuturnya.

(rk/fiz/die/JPR)

Source link