————————————-

YUDHA SATRIA ADITAMA, Tuban

————————————-

SEAKAN tidak pernah puas dengan temuannya, tiga siswa ini mempunyai target berinovasi tiap bulan minimal sekali. Menjelang akhir bulan, setiap personel wajib menyetor ide yang akan digarap.

Berikutnya, mereka berselancar di internet untuk memastikan apakah ide tersebut sebelumnya sudah ada atau benar-benar baru.

Jika pernah diteliti sebelumnya, mereka mundur. Sebaliknya, jika belum, mereka melanjutkan langkah berikutnya, yakni penelitian.

Alif mengatakan, masing-masing anggota mempunyai tugas yang berbeda. Biasanya yang paling banyak melakukan riset adalah dirinya.

Sementara Habib dan Lintang lebih intens mencari referensi di jurnal-jurnal dalam dan luar negeri.

Setelah mengumpulkan referensi, keduanya bertugas menyusun makalah. ‘’Intinya kami saling melengkapi satu sama lain,’’ ungkap dia yang diamini Lintang.

Seperti halnya ketika membuat temuan pembungkus makanan dari kulit buah naga. Lintang lebih domain  mengumpulkan limbah kulit buah naga di toko buah.

Sementara Habib menghaluskan kulit itu. Dan, Alif meneliti kandungan dan manfaatnya. Setelah diteliti dan  diketahui kelebihan pembungkus berbahan limbah tersebut hancur dengan sendirinya dalam waktu 2-3 hari, mereka kemudian mengangkatnya.

Hanya saja, temuan ini gagal mengantar mereka menjadi jawara pada kompetisi di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pekan lalu. ‘’Kami tidak lolos karena panitia menganggap temuan ini tidak sesuai tema,’’ imbuh Alif.

Riset kandungan bahan yang ditelisi selalu menjadi langkah awal tim ini. Ketika meneliti limbah sabut siwalan menjadi tisu, misalnya.

Alif memulai dengan meneliti kandungan pada sabut tersebut. Sementara lainnya mencocokkan, apakah kandungan dalam sabut siwalan itu cocok jika dibuat benda padat. ‘’Kami utamakan meneliti kandungannyadulu,’’ ucap Alif.

Langkah berikutnya, meneliti kandungan dalam tisu, apakah cocok jika bahan bakunya menggunakan sabut siwalan. Waktunya kurang lebih 1-3 bulan.

Rasa lelah mereka terbayar ketika temuan tisu berbahan limbah siwalan itu berhasil mengantar Alif bersama timnya meraih juara 1 Top Cop of Physics di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Temuan lain trio siswa ini adalah bakso dari kulit buah naga dan kentang hitam. Kelebihannya, bakso ini lebih kenyal dan awet tanpa menggunakan boraks dan formalin.

Sebab, kentang hitam menurut riset mereka mempunyai antioksidan sangat tinggi. Sehingga, lebih bagus jika dipakai untuk menggantikan tepung.

‘’Selain lebih murah, tepung dari kentang hitam lebih banyak manfaatnya daripada tepung beras,’’ terang Habib.

Ditambah manfaat kulit buah naga ternyata bisa membuat bakso lebih tahan lama. Tentu ini bisa menjadi terobosan untuk meminimalisir pedagang bakso yang nakal.

Selain itu jika dimaksimalkan, bisa menambah untung para pedagang karena bahan baku lebih murah.

Tak kalah pentingnya, aman karena menggunakan bahan alami tanpa kimia. Temuan ini mendapat gelar lima besar dalam Pesta Science Nasional di Institut Pertanian Bogor (IPB) 2017.

Sekarang ini, mereka tengah sibuk mempersiapkan temuan lain. Salah satu fokusnya membuat tuak menjadi salah satu bioenergo.

Riset berikutnya memaksimalkan kentang hitam yang selama ini dianggap hama dan kurang laku di pasaran itu menjadi bahan makanan pokok.

(bj/yud/ds/bet/JPR)

Source link