Dulu, Bariyanto bisa menghabiskan satu kuintal bahan dalam sehari. Kini, setelah Jembatan Mrican tak lagi dilewati, dia hanya bisa menghabiskan bahan gorengan 30 kilogram saja.

Hujan tak henti-hentinya mengguyur. Namun, itu tak menyurutkan semangat para pedagang di ujung Jembatan Mrican, jembatan yang telah lama ditutup karena ambrol diterjang banjir itu. Sebagian memang ada yang menutup kiosnya. Namun, sebagian lain masih setia menjajakan dagangan.

Salah satunya adalah Bariyanto, 43. Pria ini berdiri di dekat penggorengan. Tangannya dengan lincah menari memainkan spatula. Perkakas yang biasa disebut sotel itu digunakannya untuk membalik ketela yang dia goreng saat itu.

Bariyanto berdagang gorengan di tempat itu cukup lama. Jauh sebelum Jembatan Mrican ambrol. Dulu, bahkan dia sempat merasakan ‘kejayaan’ berdagang gorengan. Lokasinya yang berada di pojok pertigaan membuatnya sangat strategis. Selalu dikunjungi orang yang berlalu-lalang. Memanfaatkan jembatan itu untuk melintas.

Dulu, Bariyanto tak pernah tutup sampai malam. Sebelum pukul 18.00 dagangannya sudah habis. Padahal dia mulai berjualan pukul 13.00. Kini, dia terpaksa tutup hingga malam. Hingga pukul 22.00.

“Pembelinya hanya orang yang melewati jalan ini saja Mbak,” aku Bariyanto.

Saat itu, dalam sehari dia juga menghabiskan banyak bahan gorengan. Bisa satu kuintal dalam sehari. Kini, berkurangnya sangat jauh. Sehari dia hanya bisa menghabiskan paling banter 30 kilogram saja.

“Sekarang susah untuk mengumpulkan uang,” keluhnya.

Pendapatannya memang ibarat bumi dan langit antara dulu dan sekarang. Dulu, dalam sehari dia bisa mendapatkan penghasilan 400 ribu. Namun, kini mengumpulkan Rp 50 ribu saja sudah sulit.

Karena itulah Bariyanto mengaku sulit menabung saat ini. Penghasilannya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Pelanggannya saat ini hanya orang sekitar Jongbiru saja.

Nasib serupa juga dialami Siti Alfiyah. Wanita 59 tahun ini adalah pedagang mi. Warungnya juga jauh lebih sepi dibanding dulu, saat jembatan masih bisa dimanfaatkan warga.

“Sepi pelanggan setelah jembatan ambruk,” akunya.

Siti sebenarnya sudah membuka warungnya hingga malam. Hingga pukul 22.00. Namun, itu tak terlalu banyak menolong. Sehari, dia hanya bisa meraih keuntungan Rp 100 ribuan. Padahal, dulu bisa mencapai Rp 300 ribu per hari.

(rk/die/die/JPR)

Source link