Penemuan tersebut berhasil lolos dalam lomba sains yang digelar oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Mereka juga berhasil lolos ke Thailand untuk mempresentasikan proyek sains yang mereka temukan.

Alat pendeteksi rabies itu ditemukan oleh Gde Parama Artha Dharma bersama rekannya Made Sabda Dharma Primadika.

Mereka membuat sebuah karya ilmiah berjudul “Biosensor yang Berbasiskan Antibodi dan Antigen yang Meggunakan Darah Anjing Kintamani Bali Sebagai Pendeteksi Virus Rabies”.

Karya ilmiah itu berhasil membawa mereka meraih juara tiga nasional pada Lomba Ilmu Pengetahuan Hayati, yang digelar oleh LIPI pada Oktober 2017 lalu.

Mereka juga sempat mempresentasikan karya mereka dalam ajang Karya Ilimiah Remaja. Ajang itu sekaligus menjadi wahana seleksi karya-karya dalam lomba.

Karya terbaik akan dikirim dalam expo di Amerika Serikat pada bulan Mei mendatang. Sayangnya duet peneliti muda ini gagal menembus ajang tersebut.

Meski begitu, mereka berhasil menembus ajang expo sains di Thailand. Rencananya proyek sains mereka akan dipamerkan pada ajang 4th ASEAN Student Science Project Competition di Thailand, pada 21-28 Juli mendatang.

“Kami belum berhasil ke Amerika Serikat, karena hanya tujuh besar saja yang terpilih. Tapi kami berhasil ke Thailand.

Nanti kami juga akan mempresentasikan karya ilmiah yang kami angkat ini,” kata Gde Parama Artha, saat ditemui di SMAN 1 Singaraja, Senin (16/4). 

(rb/eps/mus/mus/JPR)

Source link