GROBOGAN – Sejak awal tahun lalu, tempat pembuangan akhir (TPA) di Ngembak Kecamatan Purwodadi dengan tiga zona pengolahan sampah telah beroperasi. Bahkan,  jembatan timbang turut melengkapi. Kini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Grobogan akan memanfaatkan gas metan yang ada di sana.

”Pemanfaatan ini sebagai penunjang piala adipura di akhir tahun ini. Karena salah satu kendala utama meraih adipura mengenai pengolahan sampah ini,” jelas Kasi Penanganan Sampah DLH Grobogan Noer Rochman.

Menurutnya, pemanfaatan tiga zona pengolahan sampah sanitary landfill sudah berjalan baik. Maka tahun ini pihaknya mengusulkan pemanfaatan gas metan yang berada di setiap zona tersebut.

”Kami usulkan di APBD Perubahan ini senilai Rp 150 juta. Nantinya akan dipakai untuk membuat jaringan di tiga zona pengolahan sampah. Sebab selama ini hanya ada penangkap gas,” ungkapnya.

Selama ini, setiap zona memiliki enam cerobong titik pengumpul gas metan. Keenamnya memiliki keterikatan dengan cerobong lain. Sedangkan penghubung antarcerobong masih dijadikan satu. Sehingga, dengan anggaran tersebut akan dibuatkan filter dan mesin blower hingga penyedot gas. 

”Nanti sampelnya akan dipakai untuk internal di TPA terlebih dulu. Yakni untuk biogas (kompor gas). Setelah sekiranya bisa dikembangkan, akan mulai dikenalkan atau disalurkan ke rumah warga sekitar,” imbuhnya.

Dijelaskan, saat ini DLH baru memanfaatkan tenaga surya (solar cell) sebagai bahan bakar pembangkit listrik di penerangan jalan umum (PJU) sekitar TPA. Sedangkan gas metan belum bisa dimanfaatkan karena terbentur anggaran.

Sehingga selama TPA dibangun di tahun ini, gas metan masih keluar bebas ke udara. Karena belum tertangkap dan bahayanya dapat mengancam lapisan ozon. ”Kami berharap setelah gas metan dimanfaatkan, ke depannya kami bisa sosialisasikan ke masyarakat sekitar. Karena ini membawa nilai cukup besar dalam piala adipura, TPA dituntut menggunakan sumber daya alam,” paparnya.

(ks/int/aji/top/JPR)