SURABAYA –Sebanyak 20 aset Pemkot Surabaya yang sudah berhasil diselamatkan hingga saat ini. Dari total luas lahan sekitar 55,3 hektar yang menyebar di beberapa daerah, nilai harganya mencapai Rp 617 miliar.
Kepala Dinas Pengelolaan Bangunan dan Tanah Kota Surabaya Maria Theresia Ekawati Rahayu mengatakan, selama kurun waktu tujuh tahun terakhir pihaknya sudah berkoordinasi dengan sejumlah pihak, di antaranya Polrestabes Surabaya, Kejaksaan Negeri Surabaya, Kejaksaan Tanjung Perak dan Kejaksaan Tinggi Jawa Timur untuk menginventarisir aset yang akhirnya kembali dimiliki Pemkot Surabaya.
“Melalui sejumlah usaha dan koordinasi akhirnya aset tersebut berhasil dimiliki lagi,” jelasnya, Jumat (5/1).
Menurut wanita yang akrab disapa Yayuk tersebut, dari total 20 lokasi aset tersebut rinciannya ada empat lokasi aset yang sudah dikembalikan ke pemkot pada 2016. Sedangkan 16 lokasi lainnya baru bisa diselamatkan pada 2017. “Secara bertahap aset tersebut bisa dimiliki oleh pemkot. Butuh waktu sekitar tiga tahun,” ujarnya.
Aset yang berhasil diselamatkan di 2016 yakni berada di kawasan Komering, Kendangsari, Kelurahan Kalirungkut, dan Kelurahan Panjangjiwo. Sedangkan 16 lokasi lainnya yakni, Kendangsari, Indragiri, Upajiwa, Yarsis, Kelurahan Kalirungkut, RMR Kelurahan Panjangjiwo, Raci, KKI Kelurahan Kebraon, AJB Bumi Putera Jalan Basuki Rahmat dan tanah makam Keputih, Dupak, Pakuwon (Sumber Rejo), TPA Benowo, Universitas Merdeka, PT Grade Family View dan Maspion.
Yayuk menambahkan, hingga saat ini proses penyelamatan aset juga masih dilakukan. Setidaknya ada 16 aset yang masih proses penyelamatan, di antaranya, PT Abattoir Jalan Banjar Sugihan, Kantor Satpol PP Jalan Jaksa Agung Suprapto nomor 8, PT Arbena Jalan Bung Tomo nomor 4, PT KKI Kelurahan Kebraon, Lapangan Kuning Jalan Dukuh Kupang Barat 1 nomor 33A. Lalu ada pula aset di Jalan Kenjeran 254, Jalan Kenari, Abror Elsahal Dukuh Kupang Barat, SMPN 24 di Kebraon Indah Permai, UD Amin Kelurahan Medokan Semampir, dan Makodikau Kelurahan Putat Gede.
Menurutnya, ada berbagai kendala dalam penyelamatan aset tersebut. Di antaranya masalah administrasi serta data lama yang harus sinkron. Selain itu, proses pencocokan data membutuhkan waktu sehingga tidak terjadi kesalahan dalam penyelamatan aset milik negara tersebut.
“Tentu ada sejumlah kendala yang harus dilalui. Koordinasi dengan pihak terkait juga selalu intens agar permasalahan aset bisa kelar,” terangnya.
Selain itu, imbuhnya, pengamanan dan penyelamatan aset itu dilakukan dengan berbagai kegiatan. Mulai dari pengamanan secara fisik, pengamanan secara administrasi, dan secara hukum. Untuk pengamanan secara fisik, upaya yang sudah dilakukan Pemkot Surabaya di antaranya melakukan pemagaran, pematokan batas, hingga pemberian papan nama. (vga/nur)