Pemuda asal Desa Munduk Bestala, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng ini sedang menekuni bisnisnya menjual tuak manis. Meski tergolong minuman tradisional, namun peminat minuman ini tergolong tinggi. Yang jelas, tuak manis yang ia kembangkan bukan seperti tuak pada umumnya, yang bikin mabuk, kalauberlebihan dikonsumsi.

Ariyawan menerangkan, bahan baku pembuatan Tuak Manis dan tuak wayah (lau) dari nira pohon aren. Nira aren yang baru dipanen tanpa dilakukan pengolahan inilah yang menjadi tuak manis. Sedangkan nira yang sudah wayah kandungan alkoholnya menjadi tinggi.

“Tuak manis yang saya buat dijamin keasliannya, karena setelah dipanen hanya dilakukan penyaringan setelah itu baru dikemas,” paparnya.

Pemuda ini menyebut, kualitas Tuak Manis sangat tergantung dari kualitas pohon aren. Sehingga tidak semua nira aren itu bisa dijual menjadi tuak manis. Menariknya, pria yang juga mengajar di SMA Negeri 1 Singaraja ini mengaku a mengkemas tuak manis semakin inovatif untuk menyiasati merosotnya harga gula aren.

“Kalau membuat dua kilogram gula aren dibutuhkan sekitar 30 liter nira aren. Padahal harga jual gula arena berkisar antara Rp 30 ribu-Rp 35 ribu per kilogram. Akan tetapi jika diolah menjadi Tuak Manis tiap botol kemasan bisa dijual Rp 6 ribu. Jadi lebih menguntungkan kalau dikemas menjadi tuak manis, daripada gula aren,” tuturnya. 

(bx/dik/ima/yes/JPR)

Source link