BALI EXPRESS, DENPASAR – Penampahan Galungan sangat identik dengan mebat dan membuat penjor. Segala jenis aktivitas dalam rangka menyambui Galungan dipersiapkan di hari penampahan. Namun, hal penting yang harus  diketahui bahwa di Hari Penampahan hendaknya  melaksanakan upacara Tebasan Penampahan. 

Masyarakat masa kini cenderung berpikir praktis dan ekonomis. Hal ini mengakibatkan pemahaman akan tattwa mulai terkikis. Akibatnya, banyak masyarakat, kususnya di perkotaan tidak melaksanakan upacara Tebasan Penampahan. “Mereka menilai pelaksanaan upacara Penampahan Galungan telah usai ketika penjor sudah berdiri, lawar sudah selesai dan segala jenis perelengkapan upacara sudah siap, ” ujar Ida Pedanda Gde Manara Putra Kekeran.

Lebih lanjut diceritakannya, pengertian tersebut perlu dikoreksi, sejatinya memang tidak ada salahnya ketika seseoarang tidak tau, namun tidak melaksanakan upacara tersebut. Pertanyaanya sekarang, apakah kita akan terus terbelenggu kepada ketidaktahuan yang lama kelamaan akan kita sebut dresta? Tentu tidak. Inilah yang perlu disosialisasikan, bahwa sebelum pelaksanaan Galungan hendaknya semua umat melaksanakan upacara Tebasan Penampahan guna menyomya Sang Kala Tiga menjadi Sang Kala Hita. “Maka pelaksanaan hari Suci Galungan akan aman dan terbebas dari pengaruh Bhuta Kala, khususnya Sang Kala Tiga,” kata Ida Pedanda Gde Manara Putra Kekeran

(bx/gus /yes/JPR)

Source link