Karena memang kenyataannya juga begitu. Kuliah pada akhirnya untuk bisa dapat kerja yang diharap lebih nyaman dengan penghasilan lebih tinggi.

Namun, sudah umum bila kita ke mana-mana mendapati pengusaha-pengusaha mapan ternyata hanya lulusan SMA. Walau hanya jualan ponsel (telepon seluler) di gerai dan bisa dibilang mapan ternyata lulusan SMP. Atau malah juragan beras di pasar yang di rumah punya mobil Fortuner, rumahnya gedongan ternyata lulus SD saja tidak.

Mungkin bagi orang lulusan sarjana yang sedang menganggur mengetahui itu pastinya akan sakit-sakit hatinya. Memang kadang jika ingin langsung turun ke dunia bisnis. Siapa cepat dia turun, dia akan cepat pula meraih kesuksesannya.

Malahan kadang ada yang memilih kuliah tinggi-tinggi. Hasilnya lulus malah menganggur, adapula sarjana yang kependidikan. Malah lulus kuliah hanya jadi guru dan ingin segera diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan gaji yang menggiurkan. Namun setelah lulus malah jadi guru honorer sampai belasan tahun juga ada.

Apalagi saat melihat gaji honorer per bulannya hanya mentok Rp 500 ribu. Melihat gaji buruh pabrik dengan nominal upah minum regional (UMR) nanti malah bisa-bisa sakit hati lagi. Belum lagi buruh hanya rata-rata lulusan SMA maupun SMK,

Walaupun tidak digaji UMR, gaji buruh tetap lebih tinggi dibanding guru honorer. Lihat saja gaji penjaga toko maupun café di Kediri. Saya kira gaji mereka diatas Rp 750 juga ada.

Melihat kenyataan itu, lantas ngapain kuliah susah-susah empat tahun lamanya dan menghabiskan uang kalau begitu. Malah tidak jarang juga ditemui lulusan pascasarjana atau S2 juga hanya mengajar menjadi guru honorer yang gajinya ya segitu saja. Belum lagi para sarjana yang memang kesulitan mencari kerja karena juga lowongan kerja juga terbatas.

Namun di saat adanya krisis lowongan kerja. Kini berkembang usaha yang memang siapa pun bisa mendaftar dan besar kemungkinan diterima. Boleh lulusan SD, SMP, SMA, hingga Sarjana dianggap sama saja. Asalkan punya smart phone, motor, dan SIM C bisa masuk dan mencari penghasilannya.

Pekerjaan yang lagi populer itu adalah menjadi driver ojek online. Bagaimana tidak populer nan keren. Nama pekerjaannya saja sudah dengan menggunakan bahasa Inggris yang keren yaitu driver layaknya manager.

Melihat fenomena itu, lantas sekarang apa bedanya lulusan SD dengan S1? Saya setuju ilmu mereka memang jelas beda. Tapi jangan remehkan juga lulusan SD yang lebih berpengalaman dalam kehidupan.

Malahan ada pula orang yang dari lahir takut kerja ya pekerjaannya sekolah juga ada. Karena takut dengan kerja, setelah lulus S1, dia pun melanjut ke S2, lalu S3 dan seterusnya agar tidak segera kerja. Itu jika orang tuanya masih bisa membiayai (kadang malah orang tuanya saja lulusan SD, hehehehe).

Ya sudah, kalau dipikir memang tidak ada habisnya pahitnya hidup ini. Mungkin mulai saat ini bagi yang baru corat-coret seragam maupun yang memilih merayakan kelulusan SMA dengan sujud syukur saja. Mulai ditata saja niatnya. Kadang hal yang dibayangkan tidak akan sejalan dengan kenyataannya.

Kalau memilih langsung bekerja, niatkan cari nafkah agar berguna dan mampu membantu orang disekitarnya. Begitu pula yang melanjutkan ke jenjang sarjana. Diniati agar ilmu yang akan didapat agar lebih bermanfaat.

Memang tidak ada ilmu yang sia-sia kalau memang diamalkan. Namun tenang, tetap ada pula kok contoh sarjana yang sukses melebihi lulusan SMA. Yang penting setelah lulus ya kerja saja. Jangan takut terlebih alergi dengan kerja. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/fiz/die/JPR)

Source link