Temuan ini terungkap dari hasil penelitian dari Lembaga Peneliti dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Udayana (Unud). Penelitian tersebut dilakukan di pesisir Pantai Desa Kerobokan, Kecamatan Sawan, Buleleng, sejak tahun 2017.

Data yang diperoleh menjelaskan bila hawa panas pasir antara 45 derajat hingga 50 derajat dapat dijadikan alternatif kesehatan. Waktu terbaik untuk memperoleh hawa tersebut mulai pukul 09.00 wita sampai pukul 17.00 wita. Hawa tersebut bisa ditemukan pada kedalaman galian pasir maksimal 50 centimeter. Waktunya pun tidak terlalu lama, hanya berlangsung selama 15 menit. Kemudian masa pemulihan setelah bangkit dari timbunan pasir perlu waktu selama 5 menit.

Kordinator Peneliti dari LPPM UNUD, Dr Agus Dharma, menjelaskan sejatinya terapi pasir ini bukanlah hal yang baru bagi masyarakat. Namun dari hasil penelitian tersebut, setidaknya masyarakat bisa teredukasi melakukan terapi dengan cara yang tepat dan benar.

 “Masyarakat dari dulu memang memanfaatkan hawa panas pasir itu untuk alternative kesehatan. Tetapi setidaknya dari hasil penelitian ini dapat memberikan informasi yang benar. Jadi warga yang memanfaatkan terapi hawa panas pasir itu cukup diurug dengan pasir, tidak perlu menggali terlalu dalam,” terang.

Dikatakan Dr. Agus, penelitian tersebut berdasar teknik pengobatan kuno dengan hawa panas pasir yang ada di sebuah daerah di Negara Jepang. Menariknya pengobatan di Negara Jepang sudah lawas dan berlangsung 400 tahun silam, menfaatkan hawa panas pasir yang muncul dari bawah. Kemunculan itu karena di daerah tersebut ada hawa panas gunung yang muncul dari bawah pasir.

Sedangkan untuk di Bali Utara sendiri, hawa panas yang muncul dari atas yang dipicu terik matahari. “Tetapi secara impires, warga sudah terbiasa memanfatkan, dan hasil penelitian ini arahnya agar pasir yang tadinya kotor penuh sampah, dapat diberishkan sehingga dapat dijadikan altertif kesehatan. Tetapi yang jelas penelitian ini masih berlanjut,” imbuhnya

Sementara Ketua LPPM UNUD Prof Dr IR I Gede Rai Maya Temaja mengatakan, pihaknya masih mengembangkan hasil penelitian ini untuk di wilayah Bali Utara lainnya. “Ini langkah awal, Pantai Kerobokan ini sebagai pilot projek, nanti kami kembangkan ke tempat lain. Dan pengembangan Pantai Kerobokan, akan terus kami upayakan,” jelasnya.

Sementara Perbekel Desa Kerobokan, Putu Wisnu Wardana berharap dengan adanya temuan ini bisa menjadikan Pantai Kerobokan sebagai destinasi wisata kian dikenal. Bahkan selama ini Desa Dinas dan Desa Adat tengah serius mengembangkan kawasan ini. “Dengan temuan ini Pantai Kerobokan kian dikenal, baik untuk rekreasi maupun tempat terapi kesehatan,” singakatnya. 

(bx/dik/yes/JPR)

Source link