Ketika dapat pengajar pantomim, ternyata jadwalnya sudah sangat padat karena mengajar di berbagai sekolah yang ada di Jember. “Bahkan, kadang juri yang dicari untuk lomba terkesan yang ‘penting ada’,” tambah Nanang, anggota J’mime lainnya mengungkapkan keprihatinannya. Sehingga, inilah yang menjadi tantangan pihaknya.

Para juri dipilih bukan karena kemampuan di bidang pantomim, tetapi seringkali hanya latar belakang pendidikan seni. Padahal, tidak semua orang lulusan seni memahami pantomim. Bahkan, termasuk juga seniman yang berbasis seni teater. “Akibatnya, untuk meraih juara pantomim di tingkat provinsi sulit sekali diraih Jember,” ucapnya. 

Karena itulah, mereka tergerak untuk mengembangkan pantomim di Jember. Sehingga, ketika sekolah membutuhkan generasi untuk dikirim lomba dan membutuhkan dewan juri untuk lomba pantomim tidak kesulitan. “Selain itu, kami sangat berharap Pantomim di Jember juga bisa semakin hidup,” tuturnya. Termasuk nantinya semakin banyak kegiatan dan wadah untuk pantomim di Jember.

(jr/gus/ram/das/JPR)

Source link