Jarum jam menunjukkan pukul 13.30. Hujan lebat mengguyur Desa Mojoagung, Kecamatan Prambon, Jumat lalu (1/12). Di salah satu rumah, pemiliknya bergegas menyingkirkan tumpukan barongan yang tengah dikeringan di halaman rumah.

Agar tidak basah kena air hujan, produk kerajinan itu diletakkan di teras. Tiga pria di dalam rumah bercat putih itu terlihat sibuk memilah beberapa barongan yang sudah kering. Sementara seorang perempuan duduk di depan mesin jahit menyiapkan kain berukuran sekitar 30 sentimeter (cm). Tugasnya menempelkan  kain di kepala barongan.

“Yang di luar bawa masuk saja,” kata pria berambut ikal itu kepada dua orang pengrajin lainnya. Adalah Suprapto pemiliki usaha pembuatan barongan khusus anak-anak. Sejak lima tahun lalu, pria 38 tahun itu sudah merintis seni kerajinan barongan untuk mainan anak-anak.

Dia membutuhkan alat-alat seperti kuas untuk mengecat, spons, kayu dan engsel. Untuk spons, Suprapto harus membelinya dari Mojokerto. Sedangkan yang lainnya bisa diperoleh di Nganjuk. Dalam suasana yang teduh, masing-masing pengerajin sibuk mengurusi tugas masing-masing.

Di tengah kesibukannya memilah barongan yang sudah kering, Suprapto berbagi cerita soal produksi barongan mainan yang sudah ditekuninya sejak lima tahun lalu. Di ruang depan rumahnya yang berukuran 3×3 meter itulah tempat pengrajin melakukan finishing. “Produksi terakhir di rumah,” katanya.

Suprapto mengaku, pembuatan barongan khusus untuk anak-anak ini tidak bisa dikerjakan sendirian. Butuh banyak orang agar bisa selesai tepat waktu. Meski sudah lama menjadi pengrajin, ada bagian pekerjaan yang menurutnya membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya. Paling lama bagian mengecat dan melukis,” terangnya.

Karena itu, dia membagi tempat kerjanya. Di rumahnya hanya dijadikan sebagai tempat finishing produk. Sedangkan karyawannya yang lain bisa mengerjakan di rumah masing-masing, khususnya mereka yang bertugas untuk menggambar dan mengecat spons. “Kalau sudah selesai nanti dikirim ke rumah, di rumah tinggal pasang,” kata Suprapto.

Untuk menyelesaikan pekerjaan, Dia dibantu delapan orang. Termasuk Srisahayu, 37, sang istri. Keduanya saling support agar usaha pembuatan barongan bisa tetap laris di pasaran. Bila sudah dikerjakan bersama-sama, dalam waktu sehari mereka bisa produksi 100 buah barongan untuk anak-anak. “Kalau cuaca seperti ini (hujan, red) butuh dua hari, kalau sudah kering catnya tidak mudah luntur,” katanya.

Barongan yang Jumat lalu sudah dimasukan ke dalam karung itu nanti akan dikirim ke Trenggalek. Selain itu juga ke Tulungangung hingga Blitar. Terakhir pesanan mainan barongan ini diminati hingga ke Samarinda. 

 “Semuanya dikirim ke luar Nganjuk,” ungkapnya sambil memasukan moncong barongan ke dalam plastik transparan.   

Untuk barongan yang sudah dimasukkan itu, jumlahnya maksimal 100 buah. Siang itu, Suprapto dan pegawainya membuat barongan berukuran tanggung. Harganya cukup Rp 16 ribu per buah. “Kalau di luar harganya bisa Rp 25 ribu sampai Rp 30 ribu,” kata bapak dua anak ini.

Lelaki yang hanya tamatan SMP ini tak pernah menyangka jika usahanya menjadi pengrajin barongan bisa menghidupi keluarganya. Bahkan sudah memperkerjakan enam orang karyawan. Padahal sebelum menjadi pengrajin mainan anak-anak, dia sempat berkerja sebagai karyawan toko di Jalan Doho, Kota Kediri.

Karena kebutuhan hidup semakin tinggi, Suprapto memilih jalan lain. Dia dengan berani memutuskan untuk menjadi pengerajin barongan. “Saya keluar jadi karyawan toko. Yakin saja, karena saya memang senang lihat barongan,” ucapnya sambil tersenyum. Untungnya saat memutuskan untuk menjadi pengerajin barongan, istrinya tetap mendukung.

“Awal membuat barongan ikut sama paman (almarhun Damirin),” katanya. Dia hanya butuh waktu sebulan untuk mengusai cara membuat barongan. Setelah bisa, Suprapto meminta izin pamannya untuk membuka sendiri dengan modal Rp 200 ribu.

Sejak awal memulai hingga kini, lelaki asal Ngronggot ini mengaku selalu menggunakan cara tradisional untuk menjual barongan miliknya. “Saya kirim sendiri, sebagian ada sales yang mengambil ke rumah,” katanya.

 Harganya pun beragam. Mulai dari barongan yang kecil diberi harga Rp 5 ribu, yang berukuran sedang Rp 7 ribu, untuk ukuran tanggung harga Rp 16 ribu dan paling besar harganya Rp 20 ribu. Sebulan omzetnya bisa mencapai Rp 50 juta.

Hingga saat ini, Suprapto mengaku tak pernah sepi peminat. Saat ditanya akan menggunakan internet untuk mempromosikan usahanya? Suprapto mengaku masih gaptek (gagap teknologi, red). “Mungkin nanti anak saya yang bisa,” ucapnya.

(rk/rq/die/JPR)

Source link